Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Nenek Supinah (Kemenag Jawa Timur)
Dream - Supinah. Puluhan tahun hidup sebatang kara, tak membuatnya menyerah. Nenek renta ini terus melanjutkan hidup meski ditinggal wafat oleh suami tercintanya.
Tahun ini, nenek 76 tahun itu bahkan mampu mewujurkan cita-cita yang telah dia bangun sejak muda: berhaji. Dia tergabung dalam kelompok terbang 37 rombongan 8 asal Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Hidupan Supinah selalu dirubung kesederhanaan. Saban hari dia hidup sebagai buruh tani. Saat muda, dia hanya dibayar lima rarus perak perhari. Hingga kini dia menerima upah Rp35 ribu perhari.
Tapi penghasilan pas-pasan ini tak membuat Supinah menyerah. Dia terus berusaha mewujudkan cita-cita naik haji, yang dipendam sejak muda. Uang hasil jerih payah itu ia simpan sedikit demi sedikit.
Supinah mengaku menyimpan uang itu di bawah amben. Ketika uangnya sudah terkumpul sekitar Rp300 ribu, ia titipkan kepada tetangga depan rumah yang dipercaya.
“ Ya lama nyimpannya, uang sampai dimakan rayap dan jamuran,” ujarnya, pelan.
Untuk mengumpulkan ongkos haji, nenek asal Dukuh Krajan, Ngrupit, Jenangan, Ponorogo, ini rela berhemat. Setiap hari, ia hanya masak beras 2 gelas kecil dengan lauk sayuran seadanya.
“ Sambal terong bayem saja, paling bagus pakai tahu tempe,” ucapnya dengan senyum merekah.
Rumahnya pun sangat sederhana, dinding dan lantai rumahnya sudah banyak yang pecah dan mengelupas. Supinah juga tak punya barang berharga selain rumah tersebut.
“ Kasihan, sepedapun ia tak punya. rumahnya banyak yang ngelupas dan pecah. Layak dapat bantuan. Semoga dengan masuk TV, ada yang mau bedah rumah mbah Supinah,” ujar tetangga Supinah.
Tahun 2010, uang yang dititipkan tetangganya telah terkumpul lebih dari Rp25 juta. Dengan diantar tetangganya, Supinah mendaftar haji.
Karena sudah lanjut usia, hampir satu tahun terakhir ini Supinah menyudahi pekerjaannya sebagai buruh tani. Kini ia bekerja serabutan seadanya.
Dua hari sekali, ia memetik bunga turi dari sebatang pohon yang ia miliki. Bunga turi tersebut ia jual, dan mendapat uang berkisar lima ribu hingga sepuluh ribu rupiah.
“ Ya, uangnya bisa untuk beli beras, garam untuk makan, turinya juga kadang buat makan,” jelas Supinah.
Selain itu, Supinah juga mencari kayu untuk bahan bakar dapurnya. Meski usianya sudah lanjut, Supinah terlihat masih sehat dan kuat.
“ Kebiasaan saya kerja keras, gerak terus, jadi ya alhamdulillah masih sehat,” terang Supinah didampingi tetangganya, yang juga satu rombongan berhaji dengannya.
Sumber: Kemenag Jawa Timur
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang