Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Puluhan pria kulit hitam berbaju hijau berjalan tenang. Tak surut oleh suhu terik 45 derajat Celcius.
Sesekali, para lelaki dengan tinggi hampir dua meteran itu mengelap wajah yang berkeringat. Tangan mereka juga sibuk menghalau kepulan debu yang dihambur angin.
Mereka terus melaju. Mengarah ke sebuah gedung besar berukuran empat kali lapangan futsal. Para mengikuti belasan kambing yang diangkut menggunakan mobil bak terbuka.
Di dalam gedung itu, bau anyir menyebar. Sisa darah masih nampak. Satu persatu kambing dibariskan. Beberapa warga Indonesia yang membeli kambing itu mendekat. Membacakan nama.
" Dede Rohali bin Fulan."
Tenang. Lelaki berbadan tegap itu mengambil pisau. Mengasahnya hingga warga perak besi terlihat.
Kepala kambing dilekatkan ke besi berlubang di lantai. Mengulang nama yang disebut, si penjagal itu mulai menempelkan pisau ke leher kambing berwarna cokelat.
" Bismillahi Allahu Akbar," ucap dia. Pisau lelaki itu menyayat leher kambing. Darah memuncrat dan segera disemprot air hingga bermuara di saluran.

Minggu, 12 Agustus 2018 itu sebanyak 16 kambing tersembelih sempurna. Tak habis waktu sampai satu jam. Usai mati, kambing-kambing itu digantung. Mirip etalase penjual daging.
Di rumah pemotongan kambing itu, terdapat empat stasiun pemotongan. Masing-masing dapat menampung 15 penjagal.
Meski bau anyir menyeruak, lokasi ini tergolong bersih. Beberapa warga Indonesia yang merokok di dalam tempat pemotongan hewan dinasihati.
“ Jangan merokok,” kata seorang pekerja.
Para jemaah haji Indonesia sengaja memilih kambing-kambing di Kakiyah karena harganya miring. Mereka biasanya menuju Pasar Kambing Kakiyah untuk mencari kambing sebagai bakal membayar dam atau denda.
Dam dikenakan kepada hampir setiap jemaah haji Indonesia karena pelaksanaan haji tamatu`.
Di Pasar Kakiyah ini, satu ekor kambing di Kakiyah dijual dengan harga 250 riyal hingga 450 riyal. Tentu saja, harga yang ditawarkan menyesuaikan dengan kualitas kambing.
Harga kambing itu belum termasuk dengan ongkos potong dan pengiriman. Satu ekor kambing yang dipotong dikenakan jasa pemotongan sebesar 21 riyal dan 10 riyal untuk jasa pengiriman ke lokasi pemotongan.

Jemaah haji asal Embarkasi Solo, Sumarno, sengaja ke Pasar Kambing Kakiyah untuk cari tahu proses pemotongan kambing yang dibelinya. Meski mengaku repot, dia ingin memanfaatkan waktu berhaji itu untuk mendapat pahala.
“ Sebenarnya ya repot. Kan kita cari pahala ya enjoy saja,” ujar dia.
Selain difungsikan sebagai tempat mencari hewan dam, Pasar Kakiyah juga ramai saat Idul Adha. Dari catatan Al Arabiya, terdapat 1 juta kilogram sisa hewan kurban.
Untuk mengatasinya, Dinas Pengembangan Mekah membuat proyek mengubah sampah dan limbah hewan sisa pemotongan kurban itu sebagai pupuk organik.

Mereka menggelontorkan dana sebesar 200 juta riyal untuk melindungi lingkungan dari bau tak sedap, bakteri, dan pencemaran air tanah dari operasi pembuangan limbah.
Saat ini pabrik yang didirikan Dinas Pengembangan Mekah berkapasitas sepuluh ribu ton, dengan kemampuan pengolahan mengubah sampah menjadi pupuk sebesar 120 ton tiap harinya.
Ada tiga tahap mengubah sisa hewan kurban di pabrik pengolahan itu. Pertama, pabrik tersebut akan memilah bangkai dan kulit. Pabrik hanya menerima bangkai untuk proses pembuatan pupuk.
Proses ke dua, sisa hewan kurban yang masuk itu akan digiling dan disemprot dengan bahan kimia khusus untuk mencegah asap dan bau. Di bagian ke tiga, air limbah bangkai akan dikurangi. Limbah itu kemudian dibakar hingga suhu 800 derajat Celcius untuk mendapat pupuk organik.
Laporan Maulana Kautsar dari Mekah
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya