Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Sariati (jatim.kemenag.go.id)
Dream - Inilah perjuangan Sariati. Demi bisa menabung untuk ongkos pergi haji, perempuan 57 tahun ini rela berhemat. Dia bahkan rela makan nasi aking saban hari. Nasi sisa pemberian para tetangga itu dia keringkan dan dimasak ulang untuk menu sehari-hari.
“ Iya, agar bisa nabung saya hemat. Ada ibu-ibu ngasih nasi sisa untuk dijemur jadi karak, saya masak, jadi bisa dimakan,” tutur Sariati, dikutip dari laman jatim.kemenag.go.id, Raabu 1 Agustus 2018.
Kehidupan Sariati memanglah sederhana. Saban hari, janda satu anak ini berjualan sayur keliling. Sepeda kayuh menjadi teman berkeliling menjajakan dagangan. Sejak tahun 1990an, ia biasa berjualan dari kantor ke kantor yang ada di kota Tuban.
Hasil berdagang itulah yang dia kumpulkan. Sedikit demi sedikit. Uang-uang itu dia simpan di bawah tikar pandan. Tahun 1995, salah satu pelanggannya menyarankan Sariati untuk menabung uangnya untuk berangkat ke Tanah Suci. Saran itu dituruti. Sariati menabung Rp2.500 ke salah satu bank di Tuban.
Sebagai pedagang sayur, penghasilan Sariati memang tidak besar. Dengan modal Rp500 ribu, keuntungan yang dia bawa pulang antara Rp15 ribu hingga Rp30 ribu perhari. “ Itupun dagangan tidak selalu habis, masih ada sisa,” tutur dia.
Penghasilan Sariati sempat meningkat pada tahun 2000an karena punya langganan katering. Sehari mampu mendapat untung Rp50 ribu. “ Tapi tiga tahun ini ibunya sudah pensiun tidak buat katering lagi, jadi tidak langganan dagangan saya,” ujar Sariati.
Meski penghasilan berkurang, Sariati tidak galau. Dia cukup-cukupkan rezeki itu untuk makan dan biaya sekolah anaknya. Saban hari dia telaten menyimpan tiga ribu hingga sepuluh ribu rupiah. Benarlah kata pepatah, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Uang simpanan Sariati makin lama menjadi bertambah banyak.
Pada 2010, uangnya terkumpul Rp26 juta. Uang itulah yang dipakai mendaftar haji. Untuk melunasi seluruh ongkos berhaji, dia juga mengumpulkan dari hasil dagang sayuran itu.
Melalui haji ini, Sariati ingin bertemu dengan rumah Allah dan menjadi haji yang mabrur. Selepas pulang haji nanti, Sariati akan tetap berjualan sayur keliling sebagai mata pencaharian utamanya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang