Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
(Foto: Instagram Arviyanti_photography)
Dream - Setelah lebih dari 30 tahun berkarya, Itang Yunasz terlihat semakin matang melahirkan karya baru. Melalui label utamanya, 'Itang Yunasz' mempersembahkan koleksi yang diadaptasi dari motif tenun ikat Sumba.
Dalam gelaran Indonesia Fashion Week (IFW) 2018, dipamerkan 10 articles bertema 'Tribalux'. Disesuaikan dengan salah satu tema besar IFW tahun ini, yang ingin mengangkat The Heritage of Ancient Komodo.
Itang memiliki alasan khusus untuk menggunakan kain etnik dari Sumba tersebut. Setelah Pulau Komodo dinobatkan sebagai salah satu keajaiban dunia, Itang mengaku tertarik untuk mengeksplore kekayaan budaya khas Nusa Tenggara Timur.

“ Karena ada komodo, makanya dicanangkan. Bahkan, saya tidak menyangka bisa pameran di San Fransisco selama empat bulan. Ternyata, hijab dengungnya mendunia. Dua tahun ini, desainer dunia Dolce & Gabana serta Maxmara pasti selipkan dua orang yang berhijab di tiap koleksi,”ungkap Itang di Jakarta Convencion Center, Jumat lalu.
Koleksi Tribalux dituangkan ke dalam potongan blus, tunik, rok, gaun, celana, legging, kulot, jumpsuit, kaftan dan kimono. Terlihat elegan dalam kombnasi warna indigo, cokelat kopi dan marun.

“ Koleksi Itang Yunasz Private Collection, semuanya pakai natural fabric. Sutra, satin silk, chiffon silk, cotton. Sesuatu yang diambil dari alam lah pokoknya,” ujar desainer yang pernah diundang ke The Young Museum, San Fransisco itu.
Pemakaian natural fabric, diharapkan dapat membuat material pakaian awet dan memudahkan perawatan. Bahan-bahan itu juga diklaim lebih ringan dan nyaman, untuk dikenakan muslimah aktif yang tinggal di daerah tropis.
“ Tenun ikat asli mudah luntur, karena semua dikerjakan dengan tangan dan harganya mahal. Tenun asli adalah heritage, harus disimpan, tidak boleh dipotong. Makanya, saya print di atas kain yang lebih flowy,” tuturnya.

Meski memilih menggunakan natural fabric, ditegaskan Itang tetap tertarik dengan tenun ikat asli yang dibuat dengan cara ditenun dan disulam
“ Ada dua pengerjaan yang nggak semua negeri bisa mengerjakan. Pasti ada filosofinya, jadi saya tidak mau menggunting. Semakin mahal, semakin lama juga membuatnya. Bisa lebih dari 4 tahun. Panjangnya bisa melebihi kain biasanya dan punya sebuah cerita, seperti dari mulai manusia hidup sampai mati," ujar Itang.
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari