6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kematangan emosi bukanlah yang bisa dilakukan dalam sekejap. Perlu dicontohkan dan dilatih terus-menerus. Banyak orang yang tak terbiasa mengontrol emosi ketika menghadapi situasi yang tak disukainya.
Hal ini bisa jadi karena sejak kecil, ia tak dilatih untuk mengenali dan mengendalikan level emosinya. Penting bagi anak memiliki kemampuan untuk mengelola emosi dan perilaku sesuai dengan tuntutan dan situasi.
Keterampilan ini akan membuat anak bisa menghambat respons emosionalnya sendiri atau perilaku mereka sehingga tidak merugikan dirinya dan orang lain. Ada dua hal penting yang harus diajarkan agar anak memiliki kemampuan ini.
Pertama, orangtua harus menjadi contoh. Tunjukkan pada anak bagaimana ketika level emosi meningkat, dan suara meninggi atau ketika berada di situasi yang pelik.
" Emosi dan kepanikan orangtua akan direkam dan dicontoh oleh anak. Sebaiknya orangtua juga belajar mengontrol emosi, hal ini akan menjadi pembelajaran yang baik bagi anak. Sampaikan juga emosi yang dirasakan tanpa merugikan orang lain, misalnya marah tetap tidak menyakiti," ujar Angela Pruess, seorang terapis anak.
Lalu yang kedua, cobalah mengajak anak untuk menjadi 'detektif' bagi emosi negatifnya. Minta si kecil mencari tahu hal-hal yang sangat mengganggu dan mudah membuatnya marah dan mengamuk.
" Ada anak yang saat mengantuk ia bisa jadi sangat sensitif, ketika tak didengarkan menjadi sangat marah atau ketika gagal dan tak bisa melakukan sesuatu langsung mengamuk. Ajak si kecil mengenali apa yang dirasakannya dan mencari solusi bersama untuk mengatasinya," ungkap Pruess.
Jika dicontohkan dan anak mulai mengenali emosi, ia akan terlatih untuk menurunkan level emosinya sendiri. Anak pun tahu kapan harus berbicara dan kapan harus diam dan mengontrol emosinya.
Sumber: Parents with Confidence
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya