Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Talkshow Generasi Kuat Frisian Flag Di Jakarta, 20 November 2017 (Foto: Gladys/ Dream)
Dream - Banyaknya studi yang dilakukan universitas terkemuka di dunia mengenai hubungan positif antara tinggi badan anak di masa pertumbuhan dengan tingkat kecerdasan otak tidak sepenuhnya dipahami oleh para orang tua. Pasalnya hingga kini, orangtua masih terfokus dengan pertambahan berat badan anak ketimbang pertambahan tingginya.
Menurut Ahmad Suryawan, seorang dokter spesialis anak, tinggi badan anak merupakan salah satu tolok ukur untuk mengetahui apakah anak tersebut sehat atau tidak. Sayangnya, hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) Kementerian Kesehatan pada 2013, tidak menunjukkan hasil baik mengenai hal tersebut.
" Sebanyak 35% anak Indonesia mengalami stunting atau kondisi anak yang tinggi badannya di bawah rata-rata anak di usianya," tutur dokter yang akrab disapa Wawan itu di Konferensi Pers Frisian Flag, di FX Sudirman, Jakarta Selatan, Senin, 20 November 2017.
Terkait hal tersebut, orangtua harus lebih aktif memberikan stimulasi dan nutrisi demi mengurangi risiko stunting. Stimulasi yang dimaksud adalah pengalaman anak untuk belajar melatih sensor motoriknya dengan gerakan-gerakan sederhana sesuai dengan kapasitasnya.
" Memang di 2 tahun pertama kemampuan anak bergerak itu terbatas. Tapi harus dibiasakan berolahraga supaya anak sehat, bugar, dan mampu meningkatkan kepandaian mereka terutama ingatan jangka panjang," timpal Michael Triangto, dokter spesialis olahraga.
Lebih lanjut, Michael mencontohkan gerakan sederhana yang dapat diajarkan pada anak adalah Gerakan 123 Frisian Flag yang meliputi gerakan berjalan di tempat, gerakan menyilang, berlari, serta melompat yang baik dan mudah dilakukan anak-anak.
Sedangkan untuk nutrisi, pemberian ASI secara eksklusif dibarengi dengan MPASI, kemudian dilanjut dengan susu formula merupakan kombinasi yang pas untuk memenuhi gizi seimbang anak.
" Betapa pentingnya paduan nutrisi, gerak atau stimulasi, dan kasih sayang untuk anak. Karena ketiganya dapat mempengaruhi kecerdasan anak. Gerak fisik senso-motorik mendukung perilaku kognitif, kemudian kognitif mendukung psiko sosial," jelas Roslina Verauli, psikolog anak.
Dengan mendapat curahan kasih sayang, disebut Vera akan merangsang neuron otak tumbuh dengan baik. Dengan perpaduan nutrisi dan aktivitas gerak yang baik maka anak dapat tumbuh optimal dengan tinggi badan semampai dan cerdas dalam bidang akademis maupun sosial.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya