Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Nick, Alisa Dan Buah Hati Mereka (Foto: KidSpot)
Dream - Kehadiran anak dalam sebuah pernikahan tentunya jadi harapan pasangan suami istri. Ketika muncul masalah kesuburan atau kesulitan memiliki anak secara alami, program bayi tabung kini dianggap jadi solusi yang cukup menjanjikan.
Tapi sayangnya program ini tak selalu berhasil karena memang banyak faktor yang terlibat. Seperti yang dialami Alisa (41), seorang ibu asal Australia. Mengingat usianya yang sudah tak muda lagi, begitu pun sang suami Nick (56), mereka mencoba mendapatkan buah hati melalui program in vitro fertilization (IVF/ bayi tabung).
" Saat itu aku berumur 40 dan suamiku Nick 55 tahun, kami memulai IV pertama pada awal 2015. Saat tes diketahui aku memiliki sel telur yang sedikit dan memiliki penyakit Hashimoto, yaitu penyakit autoimun yang membuat tiroid tak bekerja maksimal dan berdampak pada kesuburan," ujar Alisa, seprti dikutip dari Kidspot.
Hasil dari IVF pertama sangat mengecewakan. Hanya menghasilkan satu telur yang tak berkembang menjadi embrio. Setelah itu Alisa dan Nick mengonsumsi obat kembali untuk melakukan IVF kedua.
" Hasilnya kembali gagal, ada dua sel telur yang berhasil dibuahi dan menjadi embrio tapi tak berkembang," kata Alisa.
Pasangan ini akhirnya memutuskan untuk pindah ke klinik lain. IVF ketiga pun dilakukan tapi hanya ada satu telur dan tak berkembang menjadi embrio. Setelah itu pihak dari klinik mengungkap kalau Alisa tak lagi memiliki sel telur dan disarankan untuk mencari donor embrio.
Berhenti Program IVF
Tiga bulan setelah rangkaian program IVF yang gagal, pasangan ini memutuskan untuk berhenti. Mereka memilih untuk mengubah gaya hidupnya jadi lebih sehat. Tak lagi minum-minum alkohol, olahraga teratur, memperbanyak konsumsi sayur dan buah.
" Setelah 4 bulan menerapkan hidup sehat, Nick menjalani tes analisis sperma. Hasilnya level kualitas spermanya meningkat 6 kali lipat, aku semakin percaya diri dengan keputusan kami," ungkap Alisa.
Nick dan Alisa akhirnya memutuskan untuk kembali menjalani program IVF keempat ke klinik baru yang menurutnya lebih canggih. Tapi saat menjalani pemeriksaan, rupanya Alisa sudah hamil. Hal ini tentunya sangat membahagiakan bagi Alisa dan Nick.
Usaha keras mereka mendapatkan buah hati ternyata berhasil. Salah satu yang berperan sangat besar menurut Alisa adalah perubahan gaya hidup mereka.
" Perubahan besar yang kami lakukan adalah mengurangi seluruh konsumsi makanan berkadar gula tinggi seperti kopi, gula, produk susu, dan makanan bergluten. Kami banyak makan makanan yang kaya antioksidan seperti kacang-kacangan, minyak zaitun dan salmon," ujarnya.
Perubahan gaya hidup rupanya berdampak sangat signifikan pada level kesuburan Alisa dan Nick. Mungkin trik mereka untuk mendapatkan buah hati, bisa menginspirasi Sahabat Dream.
Ingin mencoba?
Advertisement

Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor

Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym



5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol