Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Berhenti Makan Gula Bikin Pusing dan Mudah Marah? Ini Cara Meredakan Gejalanya
Anak-anak (Foto: Shutterstock)
Dream - Menjadi orangtua kadang kita merasa berhak melakukan dan mengatur apapun yang kita mau pada anak-anak. Mungkin awalnya berupa niat baik, tidak ingin anak-anak kesulitan atau mengalami hal buruk di kemudian hari.
Tapi ternyata menurut Imam al-Ghazali orangtua sesunguhnya tidak bebas berbuat apa saja kepada anak-anaknya. Seperti dikutip dari NU online, ada adab atau etika tertentu yang harus diperhatikan para orangtua terkait kewajiban anak-anak berbakti kepada mereka.
Menurut Imam Al-Ghazali sebagaimana disebutkan dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din (Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444) setidaknya ada lima (5) adab orang tua terhadap anak-anaknya sebagai berikut:

Artinya: Adab orangtua terhadap anak, yakni: membantu mereka berbuat baik kepada orang tua; tidak memaksa mereka berbuat kebaikan melebihi batas kemampuannya; tidak memaksakan kehendak kepada mereka di saat susah; tidak menghalangi mereka berbuat taat kepada Allah SWT; tidak membuat mereka sengsara disebabkan pendidikan yang salah.”
Pertama, membantu anak-anak bersikap baik kepadanya. Sikap anak kepada orangtua sangat dipengaruhi sikap orangtua kepada mereka. Jika orangtua sayang kepada anak-anak, mereka tentu akan membalas dengan kebaikan yang sama. Tidak mungkin anak-anak bersikap baik kepada orangtua, jika mereka diperlakukan semena-mena. Oleh karena itu ketika orangtua bersikap baik kepada anak-anaknya, sesungguhnya orangtua telah mendidik dan membantu anak-anaknya menjadi anak yang baik pula.
Kedua, tidak memaksa anak-anak berbuat baik melebihi batas kemampuannya. Orangtua perlu memahami psikologi perkembangan agar anak-anak dapat menjalani kehidupannya sesuai dengan fase-fase perkembangannya. Tidak bijak bila orang tua memaksakan kehendaknya agar anak selalu menduduki ranking 1 di kelasnya, sementara kemampuannya kurang mendukung.
Ketiga, tidak memaksa anak-anak saat susah. Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga bisa merasakan susah, misalnya karena kehilangan sesuatu yang menjadi kesayangannya seperti binatang kesayangan atau lainnya. Pada saat seperti ini orangtua sebaiknya dapat memahmi psikologi anak dengan tidak menambahi bebannya.
Misalnya, orangtua melakukan perintah-perintah yang banyak dan berat sehingga menambah beban anak. Justru sebaiknya orang dapat menghibur dan membesarkan hati anak bahwa Allah akan mengganti apa yang hilang dari anak itu dengan sesuatu yang lebih baik.
Penjelasan selengkapnya baca di sini
Sumber: NU.or.id
Advertisement
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Pertamina dan MedcoEnergi Ambil 10% Hak Partisipasi Sumur Gas di Kaltim Milik Eni S.p.A

Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan


Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor

Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym


5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?