Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Bullying
Dream - Kasus penindasan atau bullying di sekolah kini jadi hal yang sangat dikhawatirkan para orangtua dan pendidik. Selama ini penanganan lebih banyak difokuskan pada korban, lalu bagaimana dengan pelaku yang juga masih anak-anak?
Sama seperti korban, pelaku sebenarnya juga harus diberikan terapi. Terapi ini untuk mencari tahu pemicu anak melakukan bullying dan membuatnya menyadari kesalahan serta
'memperbaiki' kondisi psikologisnya.
" Banyak faktor yang membuat seorang anak mampu berpikir dan berperilaku menindas teman-temannya. Mungkin dia hanya ikut-ikutan, takut jadi korban atau karena memang berkembang jadi pribadi yang egois," ujar Dr. Joel Haber, psikolog dan penulis buku Bully Proof Your Child for Life.
Menurut Haber, anak bisa jadi pelaku bullying jika ia terbiasa dengan lingkungan yang eksklusif. Sangat pemilih dalam hal pergaulan dan cenderung mencari teman yang setara. Ia pun sangat
menyarankan untuk para orangtua agar mendorong anak bergaul dengan siapapun dan banyak membawa anak melihat lingkungan lain selain lingkungannya sendiri.
" Anak secara alami memiliki hati yang hangat, terbuka dan penuh rasa penasaran pada siapapun. Jadi ketika ia sangat pemilih dalam pertemanan coba lihat kebiasaan orangtua atau saudara- saudaranya, bisa saja anak meniru," ujar Haber.
Selain itu, anak yang sangat egois juga sangat mungkin jadi pelaku bullying. Terutama yang seringkali mengamuk jika tak mendapat apa yang diinginkannya. Ketika mengamuk, ia langsung mendapatkan semuanya. Anak pelaku bully juga cenderung mudah frustasi jika tak mendapat apa yang diinginkan, kurang memiliki empati dan memiliki riwayat masalah kedisplinan.
" Pola asuh yang baik sangat menentukan perkembangan emosional anak. Mengajarkan anak mengontrol emosi, disiplin, dan punya empati tak bisa dilakukan dalam satu malam. Orangtua berperan sangat penting dalam hal kematangan emosi dan psikologi anak. Keluarga adalah dasar agar anak tak jadi pelaku bully," kata Haber.
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari