Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Berhenti Makan Gula Bikin Pusing dan Mudah Marah? Ini Cara Meredakan Gejalanya
Pemeriksaan Gula Darah Pada Anak (Foto: Timesulin)
Dream - Diabetes Mellitus (DM) pada anak makin sering ditemukan seiring kemajuan dalam ilmu kedokteran. Sebelum 1980 kasus DM tipe-1 baru pada anak di seluruh Indonesia tercatat di bawah 100 kasus. Namun jumlah ini terus meningkat, hingga 2014 mencapai lebih dari 1.000 kasus (data Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2014).
Penyakit DM pada anak sebenarnya bisa tertangani dengan baik jika terdeteksi lebih awal. Untuk itu para orangtua yang sehari-hari bersama anak harus waspada terhadap gejala-gejala diabetes. Seperti apa gejala khas diabetes pada anak?
" Gejala klinis DM yang khas adalah anak cenderung banyak makan, sering buang air kecil, terkadang hingga mengompol disertai dengan penurunan berat badan yang drastis, bisa sampai 6 kg dalam 2 bulan," tulis dr. Endang Triningsih, Sp.A(K), seperti dikutip dari IDAI.or.id
Ada juga gejala lainnya, seperti sering lapar, mudah lelah, infeksi jamur, luka yang sulit sembuh, penglihatan kabur, kulit yang sering terasa gatal-gatal dan kering, rasa kebal dan sering merasa kesemutan di kaki. Namun, pada kenyataannya gejala-gejala tersebut tidak timbul jelas sehingga diagnosis DM sering terlewatkan.
" Selanjutnya, mungkin saja anak dapat mengalami ‘Kedaruratan DM’ dengan keluhan seperti nyeri perut, sesak napas, muntah berulang, dehidrasi, bahkan hingga penurunan kesadaran," tulis dr Endang.
Pada anak, DM tipe-1 merupakan jenis DM yang paling sering ditemukan. DM tipe-1 ini sangat tergantung pada penggunaan insulin sebagai terapi utama, di samping tindakan penunjang seperti pengaturan makan, menjaga perubahan berat badan, olahraga yang teratur, dan sebagainya.
DM tipe-1 memerlukan pengobatan seumur hidup sampai dewasa, sehingga perlu pemahaman orangtua dan pasien agar anak dapat tumbuh kembang secara optimal. Berbeda dengan DM tipe-1 yang tidak bisa dicegah, kejadian DM tipe-2 pada anak dapat dicegah atau ditunda dengan pola diet seimbang dan olahraga yang teratur.
Dengan penyebaran informasi tentang DM pada anak, diharapkan kewaspadaan orangtua terhadap DM semakin meningkat sehingga penanganan penyakit ini dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Anak pun dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
Advertisement
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Pertamina dan MedcoEnergi Ambil 10% Hak Partisipasi Sumur Gas di Kaltim Milik Eni S.p.A

Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan


Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor

Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym


5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?