6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Sebagai orang dewasa, kita cenderung menganggap kalau anak-anak di usia sekolah tak memiliki persoalan yang berat. Seringkali saat anak mengeluh soal kondisi di sekolahnya, kita menanggapi dengan sebelah mata.
Padahal masalah di sekolah yang dihadapi anak, sangat mempengaruhi perkembangan psikologis dan emosinya. Jangan pernah menganggap enteng masalah emosi pada anak-anak terutama di usia remaja atau di tingkat SMP dan SMA.
Pastikan setiap anak mengeluh soal sekolah, orangtua mendengarkan dengan seksama. Ada beberapa pemicu stres anak di sekolah. Penting bagi ayah dan bunda mengetahuinya.
Guru
Tiap guru di sekolah pasti memiliki karakter masing-masing. Dalam beberapa hal, seringkali anak tak bisa menerima karakter guru tersebut. Padahal, ia setiap hari mendapatkan pelajaran penting daringnya. Hal ini akan memicu perasaan negatif pada anak dan bisa berujung stres berkepanjangan.
Teman
Pertemanan adalah hal yang paling dianggap penting penting oleh anak-anak. Peer pressure juga begitu tinggi. Saat anak berada di kelas yang berbeda dengan teman akrabnya, tak punya teman yang begitu dekat, atau muncul konflik antar teman, pasti akan sangat mempengaruhi emosinya. Anak bahkan bisa malas untuk bersekolah.
Perundungan/ bully
Hal ini bisa terjadi di sekolah mana pun, bahkan yang terbaik dan unggulan sekalipun. Anak bisa saja menjadi korban bully dan diam saja karena merasa takut. Untuk itu orangtua harus lebih peka melihat perubahan sikap dan emosi anak. Terutama jika menghadapi pertanyaan seputar sekolah dan pertemanan.
Jadwal sangat padat
Aktivitas yang terlalu padat juga akan dengan mudah memicu stres pada anak. Pulang sekolah, ia masih harus les. Sesampainya di rumah, pekerjaan rumah menanti untuk diselesaikan. Hal ini bukan hanya memicu kelelahan fisik tapi juga mental. Untuk itu, pastikan jadwal aktivitas sehari-hari anak dibicarakan dengannya. Jangan sampai anak mengalami stres.
Kurang waktu bersama keluarga
Anak selalu membutuhkan dukungan psikologis dari orangtuanya. Bahkan untuk mereka yang telah menjadi mahasiswa. Pastikan selalu menyediakan waktu untuk anak, baik untuk sekedar berbicara atau memberinya pelukan hangat. Jadilah orangtua yang selalu bisa diandalkan anak kapan pun.
Sumber: Verrywell
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
