8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Selalu memberikan yang terbaik pada buah hati jadi hal yang selalu diusahakan para orangtua. Tapi sayangnya, kadang jadi berlebihan dan mengarah ke dampak yang negatif.
Yaitu munculnya sikap perfeksionis atau sangat menuntut kesempurnaan. Perasaan stres, khawatir, serta penuh tekanan jadi sering dialami para orangtua perfeksionis. Tak hanya berdampak pada dirinya, sikap tersebut juga bisa 'menulari' anak atau memberi dampak buruk pada perkembangan psikologisnya.
" Orangtua yang perfeksionis juga cenderung bersikap demikian dalam setiap aspek kehidupannya. Ketika ada masalah atau gagal, mereka bisa sangat kecewa, bahkan menjadi stres dan depresi. Level kecemasannya pun begitu tinggi," ungkap Katherine Lee, seorang psikolog anak, dikutip dari Verywell.
Ada juga yang orangtua yang perfeksionis karena ketakutan kalau pola asuh yang tidak maksimal akan membuat masa depan anak jadi berantakan. Ekspektasi orangtua yang begitu tinggi juga jadi penyebabnya.
" Kesempurnaan jadi tujuan utama dalam mengurus anak. Mulai dari hal terkecil seperti makanan, pakaian, tontonan, hingga pendidikan. Mungkin bagi banyak orang hal ini merupakan wajar, tapi akan menjadi bumerang jika tak terkontrol dan membuat anak menjadi tertekan," ungkap Lee.
Menurut Lee ada beberapa pertanda yang muncul pada orangtua yang perfeksionis. Antara lain selalu mengkritisi diri sendiri, lalu membandingkan pola asuh dengan orang lain lalu merasa kurang.
" Ketika terjadi hal yang tak sesuai rencana dan ekspektasi terkait anak, emosi jadi meledak. Selalu menyiapkan seluruh kebutuhan anak dan tak membiarkannya mencoba sendiri, merasa terganggu jika anak melakukan atau menyelesaikan sesuatu tak sesuai dengan cara Anda," kata Lee.
Lee mengungkap sikap perfeksionis ini paling sering terjadi pada ibu bekerja. Ternyata penyebabnya karena, ibu bekerja terbiasa dengan pencapaian di kantor yang bisa dilihat dan ia ingin menerapkannya di rumah. Termasuk ingin menunjukkan kalau menjadi ibu bekerja, anak-anak tetap bisa memiliki prestasi.
" Sikap ini jika terus dilakukan akan berdampak buruk pada diri sendiri dan buah hati. Cobalah untuk menikmati tiap momen bersama anak tanpa ekspektasi kesempurnaan. Hubungan pasti jadi lebih hangat dan level stres akan menurun," ungkap Lee.
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian