Selasa, 27 Oktober 2026 Cari

Ayah Bunda, Coba Kenali Fase Posesif Si Balita

Reporter : Mutia Nugraheni
Jumat, 1 Desember 2017 17:22
Ayah Bunda, Coba Kenali Fase Posesif Si Balita
"Aku memilikinya lebih dulu!" boleh dikatakan merupakan 'hukum' yang berlaku pada balita.

Dream - Menghadapi sikap balita yang selalu menganggap semua barang di rumah adalah miliknya memang sering memusingkan. Saat barang diminta dan dijelaskan kalau tak boleh dimainkan serta bukan miliknya, si kecil bisa mengamuk tak terkendali.

Apalagi jika saat bermain bersama di taman bermain dengan banyak balita lain. Si kecil bisa langsung menguasai mainan tertentu dan menganggap itu miliknya. Sebenarnya ini merupakan fase yang dialami semua balita, fase posesif.

"Aku dan punya aku, termasuk kata-kata pertama yang digunakan anak. Hal ini selalu diungkapkannya dalam banyak hal. Sikap ingin memiliki dan melindungi apapun miliknya akan sangat menonjol. Termasuk merasa sangat memiliki orangtuanya, jika ada yang mendekat atau mengganggu, anak bisa sangat marah," ujar Peter Blake, Ed.D., seorang psikolog dari Boston University, Amerika Serikat.

Penelitian telah menemukan bahwa anak-anak berusia antara 2 hingga 4 tahun cenderung percaya bahwa siapa pun yang memegang barang pertama kali jadi pemilik yang sah. "Aku memilikinya lebih dulu!" boleh dikatakan merupakan 'hukum' yang berlaku pada balita.

Untuk menghadapi sikap posesifnya, para orangtua memang harus ekstra sabar. Ini merupakan tahapan psikologis di mana mereka belum punya kemampuan untuk mengenali situasi dan lingkungannya. Lalu apa yang harus dilakukan orangtua?

Anak-anak tidak diciptakan menjadi seorang yang egois dan antisosial. Kadang lingkunganlah yang membentuknya karena membiarkan sikap posesifnya. Sikap tersebut muncul karena mereka belum punya kematangan psikologis dan emosi untuk tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Tugas orangtua lah yang harus memberi penjelasan, contoh, serta teladan yang baik pada anak. Misalnya jika si kecil bermain bersama teman sebaya dan membawa mainan masing-masih. Jelaskan kalau ada mainan miliknya dan ada juga mainan milik teman yang tak boleh diambilnya. Jika ingin meminjam harus izin terlebih dulu. Lakukan ini terus menerus.

"Anak seperti spons, otaknya begitu luar biasa. Contoh berulang akan dimengertinya dan itu akan berdampak positif bagi kematangan emosi dan psikologisnya," ungkap Blake.

 

Sumber: Parents

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More