Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kasus anak stunting di Indonesia bukanlah hal sepele dan dibutuhkan kerja sama dari banyak pihak untuk menanganinya. Stunting adalah kekurangan gizi kronis dalam waktu lama sejak anak dalam kandungan. Hal tersebut membuat mereka menjadi gagal tumbuh.
Efeknya adalah tinggi tubuh lebih rendah dari rata-rata tinggi anak sesuainya. Kemampuan fisik dan kognitif anak juga cenderung terlambat. Kekurangan gizi ini, seperti dikutip dari Kementerian Kesehatan, baru akan nampak setelah anak berusia 2 tahun.
Lalu apa cirinya? Anak yang memiliki kecenderungan stunting bisa dilihat dari pertumbuhan giginya saat balita. Pertumbuhanya cenderung sangat terlambat. Hal ini karena asupan kalsium dan gizi yang sangat dibutuhkannya untuk tumbuh tidak optimal.
Ciri lainnya tinggi badan anak sangat pendek dibandingkan rata-rata anak seusianya. Balita pendek (stunted) dan sangat pendek (severely stunted) adalah balita dengan panjang badan (PB/U) atau tinggi badan (TB/U) menurut umurnya dibandingkan dengan standar baku WHO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study) 2006.
Sedangkan definisi stunting menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) adalah anak balita dengan nilai z-scorenya kurang dari -2SD/standar deviasi (stunted) dan kurang dari – 3SD (severely stunted). Untuk mengetahui detail mengenai ukuran tinggi anak, penting untuk melakukan pemeriksaan bulanan anak di posyandu, puskesmas maupun rumah sakit.
Anak stunting juga cenderung mengalami pubertas yang terlambat, memorinya dalam hal pelajaran sangat kurang, karena gizi yang tak tercukupi berdampak pada hormon dan perkembangan koginitifnya. Memasuki, usia 8-10 tahun, anak stunting cenderung tidak aktif dan jarang melakukan eye contact.
Penting bagi orangtua untuk selalu memenuhi asupan gizi optimal sejak anak dalam kandungan. Pasalnya, jika gizi tak terpenuhi dengan baik, risiko stunting begitu besar dan bisa mengancam masa depan anak, bahkan negara.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya