Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Banyak orangtua yang menganggap anak yang sehat adalah anak yang gemuk. Terutama mereka yang memiliki anak balita. Pasalnya anak gemuk berpipi tembam terlihat lucu dan menggemaskan.
Penting diketahui, menganggap anak gemuk adalah lucu adalah kesalahan besar. Hal ini diungkapkan oleh Aman B. Pulungan, ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Aman mengatakan bahwa anak Indonesia saat ini lebih rentan terkena obesitas. Salah satu faktornya karena gaya hidup yang tidak aktif. Berbeda dengan beberapa dekade lalu, tren permainan saat ini bergeser sehingga tidak lagi membutuhkan banyak aktivitas fisik.
" Tahun 80-an, anak masih main Lego dan lain-lain, sekarang mainnya gim. Jadi lebih banyak menghabiskan waktu duduk," kata Aman di Salemba, Jakarta, seperti dikutip dari Liputan6.com
Ia mengingatkan para orangtua untuk mencegah masalah obesitas sejak dini. Bahkan sejak anak masih berada dalam kandungan, gizi ibu haruslah tercukupi dengan baik dan tidak berlebihan.
" Jadi obesitas itu adalah penyakit, ada diagnosisnya. Bukan masalah estetika saja," pesannya.
© Dream
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) sendiri telah menyatakan bahwa anak-anak di dunia saat ini berada pada risiko tinggi terkena penyakit obesitas.
WHO menyatakan bahwa ketika anak kelebihan berat badan atau obesitas, mereka cenderung tetap gemuk hingga dewasa. Selain itu, risiko terkena penyakit tidak menular seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular di usia yang lebih muda juga lebih tinggi.
" Frekuensi diabetes semakin naik di dunia, studi menemukan bahwa anak-anak semakin banyak yang mengembangkan kasus ini. Seiring berjalannya waktu, diabetes bisa merusak jantung, pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf, menyebabkan masalah kronis dan kematian dini," tulis WHO dalam laman resminya.
Aman sendiri mengatakan ada cara untuk mencegah anak terkena obesitas. Yang paling mudah adalah dengan tidak memberikan anak kudapan atau camilan yang tidak sehat serta memberikan mereka ruang gerak untuk tetap aktif.
" Jadi aktivitas fisik adalah sesuatu yang wajib," kata Aman menambahkan.
Tidak hanya itu, orangtua juga diminta untuk mengatur waktu tidur atau istirahat putra-putrinya agar tetap cukup sesuai dengan usianya.
Laporan Giovani Dio Prasasti/ Liputan6.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya