Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Berhenti Makan Gula Bikin Pusing dan Mudah Marah? Ini Cara Meredakan Gejalanya
Bayi Baru Lahir
Dream - Setelah minum air susu ibu (ASI), bayi seringkali mengeluarkannya kembali atau sering disebut gumoh. Gumoh (spitting up atau gastroesophageal reflux) ini merupakan keluarnya sebagian susu saat atau setelah bayi menyusu.
Gumoh biasanya terjadi saat bayi berusia 0 hingga 1 tahun dan merupakan hal normal. Untuk volume susu yang keluar, bervariasi, umumnya tak banyak hanya sekitar 1 hingga 2 sendok makan. Sebagian besar gumoh pada bayi sehat berlangsung kurang dari 3 menit.
" Bayi yang mengalami gumoh dan tetap terlihat aktif, nyaman, serta mengalami peningkatan berat badan dan tidak mengalami gangguan pernapasan, berarti masih dalam kondisi normal da baik," tulis dokter Natharina Yolanda SpA, dari Ikatan Dokter Indonesia (IDAI).
Menurut data, di Indonesia angka kejadian gumoh selama 2 bulan pertama kehidupan bayi lebih tinggi dibanding negara lain dan 50% bayi mengalami gumoh 1 – 4 kali per hari sampai usia 3 bulan.
Bagaimana gumoh bisa terjadi?
Gumoh terjadi karena ukuran lambung bayi yang masih sangat kecil (seukuran bola pingpong) dan katup lambung yang belum kuat. Sampai usia 4 bulan, lambung bayi hanya dapat menampung susu dalam jumlah kecil setiap kali minum.
Volume susu yang terlalu banyak akan menyebabkan gumoh. Katup lambung bayi juga belum dapat menutup dengan erat sehingga susu yang sudah berada dalam lambung dapat mengalir kembali ke mulut jika volume susu terlalu besar atau jika bayi langsung berbaring setelah minum. Gumoh umumnya terjadi saat bayi minum susu terlalu banyak, saat bersendawa, atau menelan banyak udara. Bayi dapat menelan banyak udara jika minum terlalu cepat atau saat menangis.
Bagaimana penanganan gumoh?
Gumoh hanya perlu dibersihkan dengan kain bersih untuk mencegah iritasi kulit dan tidak memerlukan pengobatan khusus. Gumoh akan berkurang dan menghilang saat bayi mencapai usia 18 – 24 bulan, yaitu saat ukuran lambung lebih besar dan katup lambung lebih kuat.
" Jika gumoh disertai gangguan napas (tersedak, batuk, atau bunyi napas yang tidak biasa), lebih banyak dari 2 sendok makan setiap kali gumoh, atau berat badan bayi yang sulit naik, maka sebaiknya bayi dibawa berobat ke dokter anak," ujar dr Natharina.
Bagaiman mencegah gumoh?
Untuk mencegah gumoh, setelah minum susu posisikan bayi tegak selama 30 menit. Pastikan tidak ada yang menekan bagian perut bayi, dan sendawakan bayi. Jangan juga memaksa bayi untuk minum susu lebih banyak dari yang diinginkan.
Sumber: IDAI
Advertisement
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Pertamina dan MedcoEnergi Ambil 10% Hak Partisipasi Sumur Gas di Kaltim Milik Eni S.p.A

Dibuka Menguat ke Level 6.109,32, IHSG Bergerak di 2 Zona pada Awal Perdagangan


Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor

Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym


5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?