Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Ilustrasi
Dream - Menghadapi rengekan, penolakan, tangisan dan polah balita lainnya memang kadang membikin 'sakit' kepala. Bahkan sebuah penelitian yang dilakukan Child Development Center anak usia 2 hingga 3 tahun berdebat sebanyak 20 hingga 23 kali per jam!
" Anak-anak seusia ini (2-3) menyadari bahwa mereka dapat menyatakan pendapatnya sendiri. Berdebat dengan orangtua adalah salah satu caranya untuk mendapatkan kepercayaan diri,"
kata John Sargent, MD, seorang psikiater anak dan profesor ilmu psikiatri dan perilaku di Baylor College of Medicine, di Houston, AS.
Bagi balita, dunia nyata merupakan hal yang masih sangat asing baginya. Banyak hal yang ia tak mengerti. Mengatakan " tidak" merupakan hal normal karena jadi semacam cara anak untuk kembali memastikan kalau ia masih memegang kontrol.
" Konflik muncul terus, apa yang diperintahkan si anak cenderung tak mau melakukan dan merengek agar orangtua mengikuti kemauannya. Kerap terjadi saat menghadapi balita. Ini
sebenarnya tanda kalau mereka semakin kritis dan mampu membaca situasi dengan baik," ujar Sargent.
Untuk meminimalisir sikap balita yang selalu bilang " tidak" , ada cara yang bisa Anda lakukan. Salah satunya adalah fokus dengan hal positif. Kurangi melontarkan larangan dan minta ia
melakukan hal lain yang lebih baik.
Misalnya, " jangan lari sambil bawa botol air, nanti tumpah" diganti dengan " adek kalau mau lari botol airnya ditaruh dulu, nanti baju barunya basah" . Jika melarang si kecil, berikan juga
alasan logis, bukan menakutinya.
Contohnya saat anak mendekati dispenser air panas. Daripada Anda menakuti kalau anak akan tersiram air panas jika memainkannya lebih baik jelaskan detail. Jika ia salah memencet tombol air panas, bisa saja tanganya terluka karena air panas yang keluar.
" Beri penjelasan sebab akibat, meski anak terlihat tak fokus, sebenarnya mereka mendengarkan penjelasan orangtua dan mengerti. Apalagi jika dilakukan berulang kali," ungkap Sargent.
Sumber: Parents
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?