Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Ibu Dan Anak
Dream - Suasana hati anak-anak memang sulit ditebak. Mereka bisa tiba-tiba menangis padahal sebelumnya kegirangan dengan mainan barunya.
Ada kalanya anak-anak sangat mudah diajak berkomunikasi dan menyampaikan perasaannya, tapi kemudian jadi rewel dan mengamuk.
Dalam menghadapi level emosi anak yang naik turun ini, Christina Clemer, seorang praktisi pendidikan Montessori punya rahasia khusus. Ia setiap hari menghadapi murid-muridnya yang
berusia 3 hingga 6 tahun dan masalah emosi anak jadi 'makanannya' sehari-hari.
" Hindari memberi label pada anak, si cengeng, si pemalu, si pemarah dan semacamnya. Apalagi menyebutkan berkali-kali padanya. Dengan pelabelan ini anak malah akan mengikuti. Saat
anak rewel, menangis atau berulah, biasanya karena mereka bosan. Pemicunya? Tak ada yang mereka kerjakan atau hal baru baginya," ujar Christina.
Penting untuk selalu memberi kesibukan pada anak. Jika sedang mengerjakan pekerjaan rumah tangga, taruh saja beberapa kain, haunduk atau apapun minta anak untuk melipatnya. Meski
tidak rapi, anak ada 'pekerjaan' dan ia juga belajar. Cobalah lebih kreatif untuk memberi 'pekerjaan' pada anak.
Hindari juga menanyakan hal buruk yang berulang, misalnya kenapa anak menangis di sekolah atau alasan ia bertengkar dengan kakak/adiknya. Jangan fokus pada hal negatif tapi positif.
" Ungkapkan saja, 'hari ini menangis, tapi besok adik pasti lebih hebat tidak menangis di sekolah' atau 'kalau bertengkar dengan kakak harus segera baikan, jadi nanti bisa main sama-sama lagi', ini akan membentuk mental dan sudut pandangnya," ungkap Christina.
Anak memiliki kecenderungan mudah melupakan hal buruk. Jadi jangan mengingatkannya tentang hal negatif yang dilakukannya, tapi lebih pada mengajaknya untuk memiliki sudut pandang lebih baik dalam suatu masalah.
Sumber: Motherly
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?



5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol