Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram
Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian
Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini
Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Dream - Kebiasaan yang baik, disiplin, tepat waktu, penuh empati tak mungkin dibentuk dalam semalam. Anak-anak terutama yang masih berusia balita perlu dibiasakan dengan aturan, kesopanan dan bersikap dengan penuh kedisiplinan.
Mungkin banyak yang beranggapan kalau usia mereka masih sangat kecil dan belum terlalu mengerti. Padahal sebenarnya justru di usia yang masih dini, anak-anak yang terbiasa melakukan hal penuh kedisiplinan, melihat contoh kebaikan sehari-hari, akan menempel lekat di ingatannya.
Kebiasaannya pun terbentuk dan mentalnya terbiasa dengan kedisiplinan. Lalu mengapa anak-anak perlu terus dilatih kedisiplinan dan norma?
- Membantu anak mengelola kecemasan
Mengajarkan disiplin berarti melatih anak untuk menjadi pribadi yang tak mudah cemas di kemudian hari. Ia terlatih membuat rencanan matang dan detail terkait kehidupannya. Disiplin
menyiapkan buku pelajar, tugas sekolah, bangun tepat waktu, menata pakaian sendiri.
Hal-hal ini mungkin terdengar sederhana, tapi sebenarnya anak akan terbiasa membuat rencana agar aktivitas rutinnya jadi terselesaikan dengan baik. Ia pun terlatih mengatasi
kecemasannya dengan membuat rencana detail atau rencana cadangan.
- Melatih anak membuat keputusan
Disiplin yang tepat mengajarkan anak bagaimana membuat pilihan yang baik. Misalnya, anak diberi hukuman tak boleh bermain gadget karena ia melanggar perjanjian jam malam karena
menonton YouTube. Selanjutnya ia akan membuat keputusan dengan mempertimbangkan hukuman dan konsekuensi yang diberikan.
- Mengajarkan anak mengelola emosi
Ketika seorang anak menerima 'time out' setelah memukul adiknya, dia belajar keterampilan yang akan membantunya mengatur kemarahan. Hal ini juga akan membantunya untuk
mengelola emosi saat berhadapan dengan situasi yang sama.
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?

Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram