Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Kondisi Kesehatan Ibu Dalam Catatan Medis
Dream - Kondisi kesehatan ibu hamil bukan hanya tanggung jawabnya sendiri. Suami, keluarga, kerabat hingga lingkungan juga berperan besar untuk menjaga ibu hamil dan bayi selalu dalam kondisi sehat.
Jangan sampai karena kurangnya informasi, terlalu percaya mitos, salah informasi dan tak mendapat edukasi, ibu hamil mengalami masalah kesehatan yang berujung kematian ibu dan bayi.
Seperti kasus yang terjadi di Sikka, Nusa Tenggara Timur. Seorang suami bersikeras istrinya harus melahirkan normal, tetapi berakhir tragis.
Dokter Rudi Priyo, seorang dokter residen obstetri dan ginekologi di RSUD dr.TC Hillers Maumere, menceritakan dengan detail kasus yang dihadapinya di laman Facebooknya. Dokter muda ini menuliskan pengalamannya dengan judul " Suami Juga Perlu Diberi Pengetahuan untuk Menjadi Suami Siaga.
" Sore hari 6 September 2017, seorang ibu hamil ditemani oleh suami dan ibu bidan datang berkunjung utk memeriksakan kehamilannya, tidak ada yang janggal dengan penampakan fisik
sang ibu, tetapi saya sangat kaget ketika mengetahui bahwa Tekanan Darah (TD) pasien saat diperiksa mencapai 220/170 mmhg. Tidak ada keluhan sama sekali dari pasien, dan dikatakan
dari kehamilan yang pertama selalu tinggi TD nya," ungkap dr. Rudi.
Ia pun melakukan pemeriksaan. Hasilnya kondisi janin kurang baik, apalagi air ketuban sangat sedikit dan nyaris habis (Oligohidramnion). Ia juga memperkirakan berat badan janin kurang
dan tidak sesuai dengan usia kehamilan atau dalam istilah medis disebut " Intrauterine Growth Restriction (IUGR).
" Dengan kondisi ibu dan janin seperti ini, saya mengharuskan pasien untuk segera dirujuk ke RS dan segera diberikan perawatan emergency, yang terjadi adalah, suami pasien dengan
TEGAS menolak untuk dilakukan rujukan ke rumah sakit, dia berpendapat bahwa istrinya sudah terbiasa dengan TD setinggi itu, dan selama hamil anak pertama dan kedua, TD istrinya juga
setinggi itu dan tidak terjadi apa-apa," tulis dr. Rudi.
Sang dokter tak menyerah begitu saja. Ia berusaha menjelaskan kembali tapi tak dianggap oleh suami pasien. Rudi memperkirakan kalau istrinya sebenarnya mau jika dilakukan rujukan,
tetapi suami pasien tetap tidak mau. Risiko yang mungkin muncul dengan kehamilan tersebut adalah ibu akan mengalami kejang atau bayi meninggal dalam kandungan.
" Dengan penjelasan tersebut suami pasien tetap MENOLAK untuk dilakukan rujukan ke Rumah sakit. Saya minta dikoordinasikan dengan ibu bidan, kepala puskesmas dan lintas sektoral
yaitu bapak Kepala Dusun. 7 September 2017 siang hari, Tim dari Puskesmas melakukan kunjungan rumah pasien untuk kembali memberikan penjelasan dan meminta pasien mau untuk dilakukan rujukan ke RS. Suami Pasien dengan tegas kembali MENOLAK. Tim pulang dan tidak berhasil membujuk suami pasien," ungkap dr Rudi.
Dini hari 8 September 2017, sekitar 01.30 WITa, dr Rudi mendapat telepon dari Puskesmas memberitahukan bahwa pasien datang dan mengalami kejang sebanyak 4 kali. Sang pasien pun
sedang dipersiapkan untuk ke RS.
Kondisi Janin sudah tidak terdengar Denyut Jantung Janin (DJJ), dan kondisi pasien saat itu dengan kesadaran menurun serta tidak bisa diajak komunikasi. Pasien akhirnya dijemput
ambulance untuk dirujuk. Namun usaha untuk menyelamatkannya tak berhasil.
" Siang hari 14.40 setelah melahirkan bayi perempuan dg Berat badan 1800 gram dan tidak menangis, pasien menghirup nafas yang terakhir. Tragis. Ayo segenap laki-laki persiapkan diri
kalian menjadi Suami Siaga bagi istri-istri kalian," pesan dr. Rudi.
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?