Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Penyakit kanker pada anak memiliki kemungkinan kesembuhan dan harapan hidup yang tinggi. Hal tersebut jika penanganannya dilakukan secara cepat serta metode pengobatan yang efektif.
Dalam mendeteksi kanker, dibutuhkan dokter yang memiliki kepekaan terhadap gejala-gejala kanker pada anak.
Berbeda dengan orang dewasa yang menggunakan metode skrining untuk mendeteksi dini kanker pada anak, deteksi kanker dilakukan menggunakan metode clinical finding.
Clinical finding adalah mendeteksi penyakit dari temuan gejala. Gejala dideteksi dan menemukan jenis kanker. Dokter spesialis anak Mururul Aisyi mengatakan, ada perbedaan antara skrining dan clinical finding.
" Skrining itu lebih tepatnya mnecegah sesuatu yang belum terjadi (terkait adanya potensi kanker atau tidak). Kalau clinical finding itu menemukan sesuatu dari gejala yang sudah ada," kata Aisyi yang berpraktik di RS Dharmais saat diskusi 'Kenali Gejala Dini Kanker Anak' di Kementerian Kesehatan, Jakarta pada Selasa, 17 Oktober 2018.
Skrining tidak bisa dilakukan untuk mendeteksi kanker pada anak. Hal ini karena ena skrining, seperti pap smear (untuk mendeteksi kanker leher rahim) ditujukan untuk kasus orang dewasa.
" Pada kasus anak tidak bisa dilakukan skrining. Yang bisa dilakukan pada anak adalah clinical finding. Jadi, ada gejala kanker, lalu kita temukan penyakitnya dan obati," tambah Aisyi.
Pada anak, pengobatan kanker juga harus dipertimbangkan. Tidak sembarangan untuk memberikan kemoterapi, terlebih lagi pada bayi yang menderita kanker.
" Pada bayi yang kena kanker, tergantung kasusnya ya. Apakah dia butuh kemoterapi atau tidak. Misalnya, dia alami leukemia kongenital--leukemia yang terdeteksi setelah lahir. kami akan sesuaikan kondisi pasien, perlu kemoterapi atau tidak. Kalau pada bayi sih kasusnya jarang sekali terjadi," ungkap Aisyi.
Aisyi menceritakan, pasien termuda yang ditangani berusia 8 bulan dan menderita kanker." Waktu itu, dia ditangani dengan kemoterapi dan survive (bertahan hidup) sampai sekarang. Alhamdulillah, setelah diberikan kemoterapi, kemajuannya efektif," ujarnya.
Sumber: Fitri Haryanti/ Liputan6.com
Advertisement

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia



Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya