Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Menghadapi perilaku anak yang terkadang manis namun sering juga tak terkendali memang kadang menguras emosi. Ada kalanya sebagai orangtua kita bingung menghadapi anak yang mengamuk, memukul, menangis dan melakukan perilaku agresif lainnya.
Muncul juga perasaan bersalah, sedih dan kecewa. Namun jangan selalu memandang negatif perilaku anak yang buruk. Menurut penelitian yang dipublikasi dalam Journal Child Development yang melibatkan 15.000 keluarga di 20 negara teruangkap fakta yang cukup penting.
" Masalah perilaku pada anak usia 2 hingga 10 tahun justru bisa meningkatkan kualitas hubungan anak dan orangtua. Kedua bisa belajar banyak soal kecenderungan sikap satu sama lain dan mengelola perilaku jadi lebih baik," ujar G.J. Melendez-Torres, kepala peneliti dari Universitas Cardiff, seperti dikutip dari Huffingtonpost.
Hal tersebut bisa terwujud dengan satu syarat, yaitu empati dan 'dosis ekstra cinta'. Orangtua memang yang berperan besar dalam hal ini. Cobalah berusaha menganalisis sikap buruk anak, menunjukkan perasaan sayang terus menerus.
" Menghadapi sikap anak yang buruk, pastikan melibatkan perbaikan hubungan. Baik dari sisi komunikasi, pengertian dan manajemen perilaku demi mengurangi masalah, bukan malah menambah konflik," ujar Torres.
Selalu tambahkan 'dosis' pelukan hangat, belaian atau kecupan, setelah berkonflik dengan anak. Meski orangtua mengoreksi perilaku, dan terlibat konflik, tapi anak tahu kalau apa yang dilakukan orangtuanya semata-mata demi perbaikan sikap dan kualitas hubungan. Tak mengurangi rasa sayang sedikit pun.
" Kadang komunikasi yang tak berjalan baik, orangtua hanya memandang dari sisi negatif. Kadang ketika emosi anak meluap sebenarnya butuh pengertian dan perhatian lebih. Sikapnya yang buruk sebenarnya mencari perhatian. Cobalah lebih peka," ungkap Torres.
Sumber: Huffingtonpost
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi