Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ibu Melahirkan (Foto: Shutterstock)
Dream - Menanti kontraksi dan tanda-tanda persalinan merupakan momen-momen yang paling membuat ibu galau. Apalagi jika usia kandungan sudah mencapai 38 minggu namun si kecil dalam kandungan tak menunjukan tanda-tanda akan keluar.
Dalam kondisi seperti itu salah satu opsi yang kerap ditawarkan oleh dokter atau bidan adalah induksi. Induksi seperti dikutip dari AloDokter, merupakan proses stimulasi untuk merangsang kontraksi rahim sebelum kontraksi alami terjadi, dengan tujuan untuk mempercepat proses persalinan.
Tapi ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum Anda menyetujuinya. Hal ini karena kecenderungan induksi mengalami kegagalan dan berujung operasi caesar.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) melaporkan bahwa 20 hingga 40 persen prosedur induksi naik bersamaan dengan tingkat operasi caesar dalam beberapa dekade terakhir.
Penelitian ACOG pada 2005 juga menemukan bahwa menginduksi ibu yang baru pertama kali melahirkan berkaitan erat dengan peningkatan risiko untuk bedah caesar. Komplikasi lain yang juga sangat mungkin terjadi adalah tidak akuratnya menentukan usia janin.
© Dream
Penjadwalan induksi sebelum usia janin 39 minggu sangat berisiko. Pasalnya, paru-paru janin adalah salah satu organ terakhir yang berkembang. Dengan menginduksi terlalu cepat dapat berdampak pada kondisi organ paru-paru yang belum berkembang sempurna.
Kondisi tersebut memicu bayi harus menjalani perawatan medis di neonatal intensive care unit (NICU). Lalu kapan induksi dibutuhkan? Jika bayi menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang buruk dan stres.
Induksi bisa jadi pertimbangan jika ibu mengalami darah tinggi, diabetes atau kondisi kesehatan tertentu yang sangat mengancam nyawa. Prosedur induksi harus memiliki alasan medis yang kuat.
" Induksi bisa jadi buruk karena dilakukan tanpa alasan medis yang kuat," kata Kim Gregory, Wakil Departmen Obstetri dan Ginekologi Women's Health Care Quality and Performance Improvement di Cedars Sinai Medical Center, Los Angeles.
Sumber: Fit Pregnancy
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya