Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Keluarga Jepang (Foto: Shutterstock)
Dream - Jepang dikenal dengan negara yang terkenal dengan kedisiplinan yang cukup tinggi. Aturan yang diterapkan di ruang publik, ditaati dengan sangat baik oleh masyarakatnya.
Hal ini tak lepas dari kebiasaan yang dimulai dari rumah. Anak-anak di Jepang sudah biasa dengan aturan sejak kecil.
Mereka terlatih untuk tidak hanya memikirkan dan menyenangkan diri sendiri tapi juga kebutuhan orang lain.
Penasaran seperti apa gaya pengasuhan ala orangtua di Jepang? Yuk simak, konsep pengasuhan, seperti dikutip dari Time.
Kedekatan yang kuat
Orangtua dan anak di Jepang memiliki ikatan yang sangat kuat. Ekspresi cinta mereka memang bukan dengan pelukan, ciuman atau ucapan, tapi kedekatan. Hal ini terlihat dari kebiasaan para ibu yang selalu menggendong anaknya ke mana pun, meskipun sedang mengerjakan tugas rumah tangga.
Para ayah yang sedang bersepeda akan membeli tempat duduk khusus agar bisa berjalan-jalan bersama anaknya. Begitu pun saat ski, ayah bisa membawa balita dengan menggendongnya. Dengan mengenakannya baju dingin super tebal dan pelindung, sang anak akan diajak main ski dengan pengikat di punggung. Seru, bukan?
Saat masih balita, orangtua seakan tak mau berpisah dengan anak. Apapun kegiatannya, anak akan selalu dibawa serepot apapun itu.
© Dream
Orangtua Jepang bukan tipe yang suka memamerkan pencapaian anak. Mereka akan memilih menyimpannya sebagai privasi dan hanya membagikannya dengan kerabat yang benar-benar dekat, itu pun jika ditanya.
Hal ini juga membuat anak-anak tak terbiasa menyombongkan apa yang didapatnya. Baik itu prestasi di sekolah atau pencapaian di tempat kerja. Menyombongkan diri bukanlah hal yang baik di Jepang.
© Dream
Anak-anak di Jepang selalu ditanamkan untuk menahan diri dalam bersikap saat di ruang publik. Sejak awal orangtua selalu menanamkan untuk selalu memikirkan orang lain dan bertindak sesuai aturan.
Hal ini untuk menjaga kenyamanan, dan kepentingan umum adalah yang utama. Jangan heran kalau anak-anak di Jepang sangat mudah dikendalikan saat tantrum di ruang publik.
© Dream
Sesibuk apapun ibu, selalu mengusahakan untuk membuat sendiri bekal makan siang untuk anak-anaknya. Terutama jika sang anak masih duduk di sekolah dasar (SD). Hal ini membuat keterikatan yang nyata.
Anak selalu menikmati santapan yang disiapkan dengan cinta oleh ibunya. Bento atau bekal makan pun biasanya ditata dengan sangat apik. Terutama jika hidangannya terdiri dari sayuran yang tak terlalu disukai anak. Ibu akan berusaha semaksimal mungkin agar bekal yang dibawakannya habis dimakan.
© Dream
Dream - Mengasuh anak merupakan tugas panjang yang tidak ada habisnya. Sebagai orangtua kita harus selalu belajar hal baru. Termasuk selalu melakukan penyesuaian demi menuntun anak agar menjadi pribadi yang baik.
Tiap orangtua memang memiliki gaya yang berbeda dalam mengurus anak. Sebuah buku yang berjudul “ The Happiest Kids in the World" ditulis oleh dua ibu asal Amerika dan Inggris.
Mereka tinggal di Belanda dan mengisahkan pola asuh khas negara kincir angin ini yang layak ditiru. Bukan hanya membuat membuat anak bahagia, tapi juga menjadi modal penting masa depannya kelak.
Penasaran apa saja kebiasaan pola asuh di Belanda yang bikin anak bahagia?
1. Biarkan anak-anak bersepeda menembus hujan
Ya, Belanda membiarkan anak-anak mereka " secara harfiah" bersepeda di tengah hujan (dengan perlengkapan yang tepat) untuk menumbuhkan kemandirian, ketahanan, dan ketabahan.
Kita hidup selalu dalam perlindungan. Bersepeda di tengah hujan adalah pelajaran sederhana namun kuat tentang bagaimana mempersiapkan diri menghadapi kesulitan, terus menghadapi segala rintangan, dan menemukan keajaiban di alam. Terutama jika mereka melihat pelangi setelah hujan.
© Dream
Sebagian besar warga Belanda tidak mengukur nilai yang dimiliki dengan kepemilikan materi. Termasuk apa yang dicapai di tempat kerja. Justru di sini menerapkan konsep bekerja lebih sedikit untuk meluangkan waktu bagi diri sendiri dan membangun komunitas yang kuat.
Hal ini membuat waktu untuk keluarga lebih banyak. Keluarga adalah yang utama dan membuat anak-anak bahagia.
3. Buat aturan, dengan melibatkan anak
Tiap rumah memang harus memiliki peraturan, tapi biasanya hanya orangtua yang membuat. Sementara di Belanda, anak dilibatkan dalam membuat aturan di rumah. Bentuknya seperti kesepakatan yang jika terjadi pelanggaran di dalamnya maka akan ada konsekuensi.
Hal ini membuat anak belajar bertanggung jawab, berdiskusi dan menjaga komitmen yang telah disepakati bersama. Menarik, bukan?
4. Fokus pada kesederhanaan
Ada beberapa contoh bagaimana Belanda membawa kesederhanaan dalam kehidupan mereka. Pertama, berkemah dan di luar ruangan adalah bagian penting dari aktivitas keluarga rata-rata. Biasanya di akhir pekan, keluarga akan berkemah selam tiga hari.
Pesta ulang tahun juga dilakukan sederhana. Bukan pada hadiah, tapi lebih banyak pada menyediakan fasilitas bagi anak-anak untuk bermain bersama.
Sumber: Mother.ly
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya