Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Ilustrasi
Dream - Anak yang selalu lincah dan aktif serta sulit sekali untuk fokus dan duduk diam, seringkali langsung dilabeli sebagai anak hiperaktif. Padahal tak selalu demikian. Ada kondisi khusus yang dialami jika anak termasuk hiperaktif.
Hal ini harus dianalisis dan diperiksa terlebih dulu oleh dokter anak atau psikolog. Jika memang kondisi hiperaktifnya terjadi karena efek biologis atau bawaan, maka harus diterapi intensif.
" Kalau memang hiperaktif biologis, itu perlu bantuan terapi," ujar Anna Surti Ariani, seorang psikolog saat ditemui di Jakarta, 30 Maret 2017.
Ada juga anak yang hiperaktif karena ingin mendapat perhatian. Menurut Anna, jika anak cenderung berulang atau sangat aktif agar diperhatikan, berarti orangtua harus lebih fokus saat bersama anak. Menciptakan suasana hangat dan berkualitas.
" Waktu kebersamaan yang berkualitas itu penting, orangtua harus sadar dengan apa yang dilakukannya. Seperti banyak memeluk anak, melakukan eye-contact, menjawab dengan sepenuh hati pertanyaan anak, dan tidak hanya sekedar bereaksi, tapi juga merespons," kata Nina.
Ketergantungan akan gadget dan teknologi pada orangtua juga seringkali memicu sikap buruk anak. Banyak orangtua menghabiskan waktu bersama anaknya tapi pikirannya melayang ke gadget. Akan sangat berbeda ketika merespons anak jika pikiran tidak fokus padanya. Hal ini yang bisa memicu anak selalu mencari perhatian.
" Itu perbedaannya, bereaksi kalau anak bertanya kita hanya mengangguk saja atau hadir menemani anak tapi pikiran kemana-mana, kalau merespons kalau anak bertanya kita jawab, dia ngajak main kita ikut serta juga, perhatian sepenuhnya ke anak," ujar Nina.
Menurutnya, dengan begitu anak akan menyadari bahwa ia dihargai dan dipahami oleh orangtuanya. Kecenderungannya berulah demi mencari perhatian pun akan berkurang.
Laporan Gemma Fitri Purbaya
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?