Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Menjadi orangtua memang perlu pintar-pintar membaca situasi, terutama saat menghadapi rengekan anak. Bocah balita sebenarnya sangat pintar. Mereka sangat tahu bagaimana membuat orangtua menuruti keinginannya dengan menangis, memasang wajah sedih, hingga mengamuk.
Untuk itu jangan langsung menuruti keinginan anak. Justru selalu mengikuti apa yang diinginkannya akan berdampak buruk pada mental anak serta membawa efek jangka panjang.
Menurut Overindulgence Project, sebuah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui perlakuan memanjakan anak, ada tiga tipe berlebihan dalam menuruti keinginan si kecil.
- Memberi barang berlebihan
Mainan yang sangat banyak hingga berpuluh-puluh kardus memenuhi rumah. Ada juga yang memberikan berbagai gadget untuk anak-anaknya dan akses internet tanpa batas. Saat anak
berkata 'aku bosan', orangtua langsung mencarikan aktivitas, permainan atau gadget baru.
Anak sebenarnya malah butuh rasa 'bosan' agar menjadi kreatif. Jika semua yang diinginkannya selalu ada maka mental mencari hal baru, berkreasi dan mencari kesenangan sendiri tak akan
berkembang. Mereka malah bisa jadi pribadi yang tak bisa mencari solusi saat menemui masalah. Atau tak bisa kreatif saat berhadapan dengan suasana baru.
- Melayani anak berlebihan
Saat balita anak sudah bisa diajarkan melakukan hal-hal ringan untuk keperluannya sendiri. Misalnya anak usia 3 tahun sudah bisa mengambil minuman sendiri atau makan sendiri. Mereka
juga sudah mulai bisa ke toilet sendiri, membuka celana dan menyiram kotorannya. Kuncinya adalah mengajarkan keterampilan hidup secara konsisten.
Namun ada juga orangtua yang selalu melayani segala kebutuhan anak dan tak mengajarkan keterampilan hidup dengan baik. Makan selalu diambilkan dan disuapi, baju selalu disiapkan.
Bahkan saat sekolah buku dan PR selalu disiapkan serta dikerjakan orangtua. Hal ini justru akan membuat anak tak memiliki tanggung jawab akan dirinya sendiri. Mereka juga tak punya
mental mandiri.
Hal tersebut hanya akan membuatnya sulit bersaing di kemudian hari. Terutama ketika berada di lingkungan kerja yang sangat 'keras'.
- Aturan yang tak jelas
Tiap rumah harus memiliki aturan yang jelas dan harus diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Misalnya, cuci kaki sebelum naik tempat tidur, setelah makan langsung taruh piring di bak cuci piring, saat telat pulang harus memberi kabar, keluar rumah harus izin atau memberi salam.
Aturan tersebut membuat anak belajar disiplin, menghargai orang lain, belajar empati dan berperilaku sesuai norma. Bayangkan jika di rumah anak terbiasa berlaku seenaknya, pergi dan pulang sesuka hari, menaruh piring kotor di mana saja. Saat bergaul di luar rumah, perilakunya akan tak jauh berbeda, bukan?
Sumber: Verywell
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?