Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Perundungan atau bullying jadi masalah yang sangat mengkhawatirkan di sekolah. Kasus bullying di Amerika Serikat misalnya, banyak yang berujung memakan korban jiwa.
Sekolah-sekolah di Korea Selatan juga mengalami banyak kasus perundungan. Para orangtua tentu saja khawatir dengan hal tersebut. Hal ini membuat sebuah layanan jasa yang cukup unik muncul di negeri ginseng tersebut, yaitu " Uncle Service" .
Jasa tersebut seperti menyediakan ajudan khusus untuk anak agar terhindar dari bullying. Atau jika bullying sudah terjadi, 'Uncle Service' akan mencari bukti otentik agar kasusnya bisa diproses secara hukum.
Dikutip dari All Kpop, ada tiga paket yang ditawarkan dalam " Uncle Service" . Pertama " Uncle Package" di mana akan ada orang yang bertubuh besar dan penampilannya mengintimidasi yang akan mengantar, menjemput dan mendampingi anak.
© Dream
Paket kedua yaitu " Chaperone Package" , untuk kasus bullying sudah terjadi. Si 'paman' yang berbadan besar akan menghampiri kantor orangtua pelaku bullying dan melakukan protes. Demonstrasi di kantor orangtua pelaku dilakukan sebanyak 4 kali.

Paket ketiga yaitu " Evidence Package" . Paket ini khusus untuk orangtua yang ingin mencari bukti otentik terjadi bullying pada anaknya. Si 'paman' akan merekam, memotret dan mencari bukti pendukung. Bukti itu akan digunakan orangtua untuk menuntut tanggung jawab pihak sekolah.
Banyak orangtua yang mendukung adanya layanan jasa ini. Banyak juga yang memberikan kritik. Salah satunya Profesor Kim Yoon Tae dari Korea University.
" Sanksi pribadi hanyalah bentuk lain dari kekerasan. Kekerasan sekolah harus diselesaikan dengan memperbaiki sistem yang ada," ujar Prof Kim.