Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Pemberitaan terus-menerus soal kasus corona positif (Covid-19) di Indonesia, bisa jadi membuat anak-anak penasaran. Pada anak usia sekolah dasar (SD) ke atas, mereka bisa saja mengajukan pertanyaan kritis soal corona.
Orangtua, tentunya harus memberikan informasi yang tepat dan bukan menimbulkan rasa panik pada anak. Apalagi sampai menakut-nakutinya. Gali informasi dari situs yang tepat, bisa dari WHO atau Kementerian Kesehatan.
" Dalam menjelaskan virus corona para orangtua harus tetap terinformasi dengan baik. Penting bagi para orangtua untuk tetap mendapatkan informasi terbaru terkait virus corona, sehingga dapat menjawab pertanyaan anak-anak," ujar Molly Gardner, seorang psikolog anak di Rumah Sakit Anak Nationwide, Ohio.
Tak hanya itu, para orangtua juga harus tetap menjaga situasi dan kondisi agar anak-anak tidak merasa cemas. Menurut direktur Clay Center for Young Healthy Minds di Massachusetts, Ellen Braaten, para orangtua juga harus menyesuaikan pendekatan tergantung pada usia anak mereka.
" Harus dipikirkan juga apakah lebih banyak memberikan informasi membantu mereka mengatasinya atau justru membuat mereka cemas," ujar Braaten.
© Dream
Pada remaja yang kemungkinan sudah banyak mendengar informasi tentang virus corona di media online atau di sekolahnya, cobalah berdiskusi. Ingatkan mereka untuk menjaga kesehatannya sendiri secara optimal.
" Cari tahu apa yang mereka takuti dan apa yang sudah mereka ketahui tentang virus corona ini," kata Braaten.
Cobalah untuk menjawab pertanyaan anak-anak mereka dengan spesifik meski pertanyaan itu terasa tidak nyaman bagi para orangtua.
" Tidak apa-apa menggunakan kata kematian karena semakin bertele-tele, mereka akan semakin bingung," Braaten menambahkan.
Bisa juga untuk memberitahu mereka bahwa dokter di seluruh dunia sedang bekerja untuk menemukan solusi dan perawatan bagi orang-orang yang sudah terkena virus corona.
Penulis : Vina Muthi A/ Sumber: Liputan6.com
© Dream
Dream - Jumlah kasus infeksi karena corona terus meningkat di seluruh dunia. Untuk di Indonesia sendiri, baru pada 2 Maret 2020 kemarin, diketahui ada 2 pasien yang positif corona (Covid-19) setelah kontak langsung dengan kerabatnya dari Jepang yang juga terinfeksi.
Bagi orangtua, kabar ini memang memunculkan kekhawatiran. Pasalnya, anak-anak memiliki daya tahan tubuh yang belum optimal. Mereka juga kerap kali mengalami keluhan batuk, pilek, demam dan disertai sesak napas, yang memang mirip dengan gejala infeksi corona.
Tak perlu panik. Pasalnya, jumlah kasus infeksi coronavirus di kalangan anak-anak sangat rendah. " Kami melihat [sekitar] total 75.000 kasus pada saat ini, tetapi literatur hanya melaporkan sekitar 100 atau lebih kasus anak," kata Terri Lynn Stillwell, seorang ahli penyakit menular anak di Rumah Sakit Mott Children's di University of Michigan, dikutip dari NPR.org.
Mungkin saja banyak anak yang terinfeksi tetapi tidak cukup sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Bisa juga pada anak yang terinfeksi mungkin tidak mengalami gejala sama sekali.
" Sejauh ini, tampaknya lebih dari 80% infeksi cukup ringan pada anak, tidak lebih parah dari flu biasa," kata Cody Meissner, seorang ahli penyakit menular dan profesor pediatri di Tufts University School of Medicine.
© Dream
Meissner merujuk pada temuan sebuah studi kecil, yang diterbitkan di Journal of the American Medical Association (JAMA). Para peneliti di Wuhan, Cina, mengidentifikasi sembilan bayi yang dirawat di rumah sakit yang telah didiagnosis dengan COVID-19 setelah terinfeksi oleh anggota keluarga.
Usia mereka berkisar dari satu bulan hingga 11 bulan. Para peneliti mendokumentasikan gejala mereka. Mereka menemukan bahwa empat bayi menderita demam dan dua menderita batuk.
" Itu penyakit yang sangat ringan," kata Meissner.
Tidak ada bayi yang mengalami komplikasi parah. Sejauh ini, tampaknya virus Covid-19 lebih mungkin menginfeksi orang dewasa yang lebih tua, terutama orang-orang dengan masalah kesehatan kronis. Korban yang meninggal rata-rata berusia 70-an.
© Dream
Dream - Kasus virus corona (Covid 19) sudah masuk ke Indonesia. Dua warga Depok, Jawa Barat diketahui positif virus tersebut. Bagi banyak pihak terutama orangtua, mungkin muncul kekhawatiran.
Pencegahan sangat penting dilakukan. Salah satunya dengan meningkatkan imunitas atau kekebalan tubuh anak. Bagaimana caranya? Imunitas perlu ditingkatkan dengan asupan-asupan kaya gizi.
Anak yang sakit berulang dan sering tertular penyakit, tak boleh dibiarkan. Pasalnya, dalam kondisi tersebut perkembangan dan pertumbuhan fisiknya jadi tidak optimal.
" Sistem kekebalan yang berfungsi penuh adalah apa yang membuat anak-anak tetap sehat," ujar Alan Green, seperti dikutip dari KidSpot.
Untuk menjaga sistem kekebalan yang sehat dan kaya gizi adalah kuncinya. Hindari memberikan anak makanan olahan atau kemasan. Ini termasuk keripik, cokelat, kue, dan es krim.
© Dream
" Berikan menu sayuran segar, unggas, daging, ikan, biji-bijian, kacang-kacangan, dan telur. Penting juga untuk memberi anak air putih dan jus buah segar tanpa gulam" ungkap Alan.
Asupan lain yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kekebalan tubuh si kecil adalah yougurt. Mengonsumsi minuman ini akan melindungi saluran pencernaan yang dan berperan mendukung sistem kekebalan tubuh.
" Ketika bakteri usus menjadi tidak seimbang, kemampuan untuk melawan infeksi diubah dan lebih berisiko terkena pilek dan flu," kata Alan.
Minum yogurt kaya probiotik. Minuman ini dapat meningkatkan bakteri pada usus. Bisa juga memberikan si kecil suplemen yang mengandung lactobacillus, bifidobacterium dan acidophilus.
Bisa juga memberikan suplemen tambahan sebagai perlindungan optimal. Banyak vitamin atau suplemen yang beredar di pasaran untuk meningkatkan imunitas anak.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya