Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Anak Bermain Balok
Dream - Orangtua pasti punya cara sendiri untuk tahu apa yang dirasakan, kemampuan, keterampilan serta keinginan si kecil. Kadang apa yang kita pikirkan, sebenarnya tak sesuai dengan apa yang dialami anak.
Kondisi salah tafsir ini tentu saja bisa memicu konflik. Padahal peran orangtua begitu besar dalam kematangan psikologis anak. Kurangnya kesadaran tentang psikologis anak dapat
menyebabkan penilaian yang buruk.
Hal ini membuat orangtua membuat keputusan yang kurang tepat sehingga berdampak negatif pada anak-anak mereka. Kondisi psikologis anak-anak secara langsung dipengaruhi oleh seberapa besar waktu dan perhatian yang diberikan orangtua.
" Penting bagi orangtua untuk mendidik diri mereka sendiri tentang berbagai aspek psikologi dan perkembangan anak sehingga dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat terhadap pertumbuhan emosi dan mental anak," ujar Dr. Brenda Volling, direktur dan profesor riset psikologi dari University of Michigan, AS, dikutip dari Momjunction.
Menurut Brenda, observasi adalah kunci mendasar untuk bisa mengerti psikologis anak. Cara mengobservasi ini dengan melihat secara seksama bagaimana anak bereaksi, berekspresi, saat
makan, tidur dan bermain. Cari tahu apa kesukaannya serta apa yang paling tak disukai.
" Lihat juga bagaimana saat anak di tempat baru, apakah ia berinteraksi dengan baik atau bermain sendiri saja. Jangan menghakimi, dengan mengatakan anak pemalu, nakal dan
semacamnya, cukup observasi dan benar-benar Anda ingat detailnya," kata Brenda.
Dengan hasil observasi tersebut bisa jadi 'modal', untuk membuat waktu yang berkualitas dengan anak. Misalnya, Anda tahu anak suka sekali bermain pasir dan memilih mainan tersebut sebagai hadiah lalu benar-benar bermain bersamanya.Tapi main bersama nak ini kadang yang sulit dilakukan orangtua.
" Menemani anak bermain sambil nonton televisi, main ponsel, atau membaca koran sebenarnya bukan itu yang anak butuhkan. Tapi bermain bersama, dengan memfokuskan tubuh dan
pikiran pada anak seluruhnya. Dengan begitu akan tercipta percakapan dan membentuk ikatan yang kuat," kata Brenda.
Jika ingin mengerti kondisi psikologis anak, Anda tentu harus menghabiskan waktu yang berkualitas dengannya. Jadi manfaatkanlah secara baik waktu yang ada dengan bermain dan bercakap-cakap dengan anak. Bisa menjelang tidur atau berbincang di meja makan sebelum sekolah.
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?