Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi
Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
Berkuda
Dream - Olahraga berkuda kini kian banyak diminati terutama oleh anak-anak di usia sekolah dasar. Beberapa sekolah juga mulai memperkenalkan berkuda sebagai ekstrakurikuler. Beberapa tempat juga mulai menyewakan kuda dengan harga terjangkau.
" Sekarang banyak tempat rekreasi maupun stable-stable dan klub berkuda yang menyediakan penyewaan kuda dengan harga terjangkau, sekitar Rp 250ribu per 45 menit," kata Fachtul
Anas, Perwakilan Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi), di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 14 November 2017.
Keterjangkauan harga itulah, disebut Rahmat Nasir, Head and Coach, General Manager Anantya Riding Club, sebagai salah satu faktor yang menyebabkan kian ramainya peminat berkuda di
Indonesia. Terutama untuk anak-anak berkebutuhan khusus yang menjadikan berkuda sebagai terapi.
" Karena berkuda itu olahraga yang bagus buat tubuh. Menjaga kebugaran dan membuat kita lebih fokus. Makanya bagus buat terapi anak autisme atau yang dikenal dengan istilah equine
therapy," tegas Rahmat.
Menurutnya, dengan olahraga berkuda, baik anak-anak berkebutuhan khusus hingga dewasa, akan dilatih saraf motoriknya. Yaitu dengan duduk di atas kuda dan mengikuti gerakan kuda
hingga benar-benar mahir equestrian (ketangkasan dalam olahraga berkuda).
" Selain itu kita jadi fokus untuk menjaga keseimbangan dan untuk memiliki bonding yang kuat pada kuda. Mungkin anak dengan autisme awalnya merasa takut saat didudukkan di atas
kuda, namun lama-kelamaan fokusnya akan teralih pada kuda," ujar Rahmat.
Bonding dengan kuda sendiri, disebut Rahmat, adalah kunci dari olahraga satu ini. Berkuda memang bukan hanya sekedar menunggangi hewan, tapi si penunggang harus ikut merasakan apa yang dirasakan kuda.
" Bisa saja pas kita naik kuda mau belok kiri, kudanya maunya belok kanan. Itu cuma bisa dipahami saat kita udah menciptakan bonding," lanjutnya.
Bonding yang dimaksud dapat diperoleh dengan rajin berkomunikasi dengan kuda saat memandikan, memberi makan, serta menyisir rambut dan ekor kuda. Dari bonding dengan kuda itulah dapat menstimulus kemampuan emosional, sensorik, motorik dan membangun konsentrasi serta mendorong komunikasi untuk anak autisme.
Meski memiliki banyak manfaat untuk mendorong konsentrasi dan perkembangan saraf motorik bagi anak, menurut Rahmat, seorang anak idealnya baru bisa latihan berkuda saat berusia 6 tahun.
Advertisement

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Dua Jalan Berbeda Bursa Saham di 2 Tahun Pemerintahan Prabowo VS Jokowi

