Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Isu stunting terus mendapat perhatian dari pemerintah Indonesia. Stunting sendiri adalah masalah kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama.
Efeknya berupa gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Bukan hanya berdampak fisik tapi juga kemampuan kognitif.
Stunting biasanya terlambat disadari. Ketika tinggi badan si kecil relatif lebih rendah dari teman sebayanya, barulah muncul kekhawatiran. Stunting sangat berbeda dengan pendek.
Tinggi badan yang relatif rendah bisa juga disebut dengan perawakan pendek (short stature). Hal itu terjadi jika tinggi badan menurut umur dan jenis kelamin berada di bawah persentil 3. Berbeda dengan stunting, perawakan pendek tidak memengaruhi kondisi otak.
"Anak pendek jangan langsung di-judge kalau dia stunting. Tapi perawakan pendek bisa disebut stunting jika terjadi karena gangguan kesehatan atau nutrisi yang tidak optimal," ujar dokter Spesialis Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak, Damayanti Rusli di acara Milk Versation Frisian Flag, Jakarta, Rabu 23 Januari 2019.
Stunting selalu bermula dari penurunan berat badan yang dilanjutkan dengan penurunan fungsi kognitif. Damayanti mengatakan, anak penderita stunting berisiko memiliki IQ di bawah 90. Artinya anak hanya mampu bersekolah paling maksimal hingga kelas 3 SMP.
Selain masalah kognitif, anak juga mengalami gangguan pembakaran lemak. Potensi obesitas pun membesar seiring dengan keparahan stunting.
Anak bertubuh pendek masih dapat ditolong sebelum menjadi stunting. Kesempatan itu hanya ada sampai anak menginjak usia 2 tahun.
"Stunting itu sifatnya irreversible atau tidak bisa diubah kalau sudah kena. Bawa balita ke dokter spesialis anak karena hanya mereka yang bisa membedakan mana stunting dan bukan," ujarnya.
Asupan gizi memegang peran penting dalam mencegah stunting. Pastikan mereka mendapat protein hewani yang cukup. Jika berat badan turun seketika, segera bawa ke dokter anak untuk dilakukan pemeriksaan.
"Jangan asal tebak sendiri. Nantinya dokter akan membuat grafik untuk membaca apakah anak itu stunting atau tidak," ungkap Damayanti.
Jika kondisinya hanya merupakan perawatan pendek, anak bisa mengikuti terapi. Antara lain terapi sulih hormon, sulih enzim atau teknik pemanjangan tungkai.
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


Penelitian Ungkap Protein Bisa Bantu Membersihkan Sisa Sel dan Kurangi Tanda Peradangan

Mengapa Tempat Sepi seperti Lorong Kosong Bisa Terasa Menyeramkan? Ini Penjelasan Psikologinya


Bagaimana Harga Emas Ditentukan? Apakah Harganya Sama di Seluruh Dunia?

El Niño Diprediksi Menguat, Harga Beras Dunia Terancam Melonjak dan Jutaan Orang Bisa Terdampak

Sering Bikin Lelah secara Emosional? Kenali 8 Tanda Anda Berhadapan dengan Energy Vampire

Starvision Rilis Trailer dan Poster Dewi Siluman Ular, Angkat Kisah Pernikahan Manusia dengan Jin