Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi
Dream - Belum banyak keluarga yang membicarakan soal uang secara terbuka. Padahal, mengenalkan konsep uang pada anak dimulai dari membicarakan kebutuhan dalam rumah, dimulai dari hal-hal terkecil seperti uang jajan.
Ajak anak berbelanja bulanan dan mencatat kebutuhan. Dengan begitu anak bisa tahu apa yang dibutuhkan dan pengeluaran yang harus disiapkan. Kampanye "Bicara Uang" dari Bank Permata berusaha untuk membuat keluarga makin terbuka saat berbicara soal uang pada anak, terutama usia remaja.
"Kami membangun Bicara Uang agar orang tua dan remaja sama-sama mengetahui isu keuangan, serta agar remaja mampu mengatur goal dalam hal keuangannya. Uang bisa dibicarakan dengan siapa saja, selama anak bisa diajak berbicara, kenapa tidak?" ujar Ivy Widjaja, selaku Head of Customer Segmentation and Marketing Permata Bank, di Jakarta, 19 September 2017.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) 2016, hanya 29,7% masyarakat Indonesia yang memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang produk dan jasa keuangan.
Alasan tak terbukanya orangtua pada anak soal uang adalah ada tiga hal, yaitu persepsi negatif mengenai konsep materelialistis. Kedua, adanya pemikiran yang salah bahwa rezeki akan mengalir dengan sendirinya. Ketiga, karena kebiasaan orang tua yang menganggap kewajiban anak hanyalah belajar, bukan mengurus uang.
Nyatanya, berbicara keuangan sangat penting dilakukan pada seluruh generasi di dalam keluarga, terutama untuk remaja. Remaja merupakan fase di mana anak sedang dalam masa transisi menjadi dewasa. Remaja memiliki ego yang besar sehingga cenderung bersifat impulsif.
Selain itu, remaja sedang berusaha untuk menciptakan eksistensi diri. Karena pentingnya eksistensi diri, remaja berusaha untuk diterima di lingkungan sosialnya. Di era sosial media saat ini, mereka akan lebih rentan tergiur dengan hal-hal glamour di sosial media sehingga mempengaruhi kegiatan keuangannya.
"Pola pengeluaran uang remaja sangat dipengaruhi oleh sosial media dan teman sebayanya. Mereka cenderung mengikuti apa yang dilakukan temannya, 21% pengeluaran remaja banyak dilakukan untuk membeli pakaian, dan 20% untuk makanan. Karena terpaan tren di sosial media, remaja memang cenderung konsumtif dan sulit menabung," ujar Tara de Thouars, seorang psikolog.
Perbedaan karakteristik remaja ini mengharuskan orangtua bekerja lebih ekstra untuk meluruskan masalah keuangan. Menurut Tara, lontarkan pertanyaan untuk memancing keterbukaan si remaja. Terapkan sistem demokratis, sehingga komunikasi terjadi dalam dua arah.
"Pada dasarnya, anak adalah cerminan dari orang tuanya. Tidak akan tercipta anak yang rajin menabung apabila orang tuanya bersifat konsumtif. Keluarga merupakan lingkungan yang tepat untuk mulai membentuk nilai-nilai dasar. Ajak remaja bicara hal keuangan, sebagai bekal mereka di usia dewasa nanti," ungkap Tara.
Laporan: Annisa Mutiara Asharini
Advertisement

Berawal dari Penyakit Misterius dan Mayat Membusuk, Begini Sejarah Mitos Vampir yang Mendunia

3 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari Sebelum Olahraga, Menurut Ahli Gizi

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

Sering Minum Boba? Ini 5 Dampaknya bagi Tubuh, dari Gula Darah hingga Asupan Antioksidan

Sering Tersengat Listrik Saat Memegang Gagang Pintu? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya

Cuma 10 Menit Olahraga Sehari Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak, Ini Temuan Peneliti

Deforestasi Amazon Brasil Turun ke Level Terendah, Ini 5 Pelajaran yang Bisa Ditiru Indonesia