6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Jatuhnya pesawat Lion Air JT610 tentu menimbulkan duka dan trauma bagi keluarga korban. Bagi orang dewasa, peristiwa tragis dan kematian seperti ini, merupakan hal yang sangat berat.
Begitu juga bagi anak-anak, mereka kerap kebingungan dengan situasi yang dihadapi. Banyak orang datang berwajah sedih, memberi pelukan tapi hanya sedikit yang bisa memberi pengertian.
Menjelaskan soal kematian pada anak memang berat, tapi tetap harus dilakukan. Menurut dosen dan juga psikolog Universitas Indonesia Bona Sardo Hutahaean, untuk memberi pengertian tentang kematian anggota keluarga pada anak, dibutuhkan kestabilan emosi.
" Keluarga bisa memberikan semacam perumpamaan atau kiasan-kiasan yang masih bisa disesuaikan dengan dunia anak- anak. Supaya mereka juga masih berpikir bahwa orangtua saya atau anggota keluarga saya memang pergi dan tidak akan kembali," ujar Bona kepada Health Liputan6.com.
Untuk melakukan ini, keluarga butuh tahu tentang latar belakang dari anak dan keluarga itu sendiri. Salah satu yang bisa dilakukan adalah memperkenalkan konsep kematian dengan surga.
" (Misalnya) papa atau mama itu pergi ke surga dan di surga itu tempatnya tidak kelihatan. Kadang-kadang munculnya dalam alam mimpi. Seperti itu," kata Bona menjelaskan.
Hal tersebut memang tak mudah dilakukan. Bona mengatakan, butuh kestabilan emosi dari mereka yang akan menceritakan tentang kejadian tersebut pada anak.
" Itupun juga tidak sederhana. Dalam konteks ini kan keluarga juga masih emosional," ujarnya.
Selain itu, umur juga mempengaruhi apabila keluarga ingin memberitahukan tentang kematian anggota keluarga pada anak. Misalnya, memberitahukan tentang konsep surga bisa dilakukan ketika anak secara kognitif sudah baik.
" Tapi kalau belum ya beritahu saja bahwa orangtuanya pergi, tapi tidak kembali," tambah Bona.
Apabila anak merasa rindu. Keluarga bisa mengajaknya untuk mengenang atau " menemui" mereka lewat pusara yang ada.
Sumber: Giovani Dio Prasasti/ Liputan6.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
