Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Seto Mulyadi (Foto: Kapanlagi.com)
Dream – Kasus pemboman gereja dan Mapolres Surabaya beberapa hari lalu sangat menyita perhatian publik. Bukan hanya menimbulkan suasana mencekam tapi si pelaku juga melibatkan anak-anaknya sendiri dalam melakukan aksi peledakan.
Anak-anak mereka ada yang langsung meregang nyawa namun ada juga yang selamat. Seto Mulyadi, seorang psikolog yang juga pendiri Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menegaskan untuk tidak menyebut anak-anak para pelaku pemboman sebagai teroris.
" Jangan ada kata-kata bahwa anak adalah pelaku teroris. Mereka bukanlah pelaku, melainkan korban," ujarnya saat ditemui Gedung Kementerian Kesehatan RI, Jakarta, 15 Mei 2018.
Lelaki yang akrab dipanggil Kak Seto ini mengungkapkan bahwa anak merupakan korban bujuk rayu, pemaksaan atau intimidasi. Mereka kerap diberikan doktrinasi, baik positif maupun negatif.
“ Jika positif, maka anak akan mengerjakan hal-hal mulia. Begitu juga sebaliknya jika negatif, mereka bisa melakukan tindak kejahatan. Mereka dijadikan korban terorisme karena dianggap sebagai yang paling mudah untuk masuk,” ujar Kak Seto.
Oleh sebab itu, menurutnya untuk membesarkan, mengasuh dan melindungi anak, bukan hanya dibutuhkan keterlibatan orangtua. Tapi diperlukan perhatian dari orang sekitar dan lingkungan yang aman. Diawali dari sekitar rumah mulai dari RW dan RT
“ Rukun Warga tapi kok warganya nggak rukun. Rukun Tetangga tapi kok tetangganya nggak peduli satu sama lain. Ini perlu kewaspadaan bersama, serta tindakan nyata jangan sampai orang sekitar nggak mau tahu," ungkap Kak Seto.
Untuk di lingkungan rumah, Kak Seto mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan berkomunikasi dengan tetangga. Apabila ada keluarga yang orangtuanya melakukan gerak-gerik mencurigakan dan melakukan doktrin kepada anak, bisa melapor ke kepolisian.
" Jika selama ini pencegahan masih kurang, maka sekarang harus lebih ditingkatkan agar tidak ada korban anak-anak dan kekerasan lainnya," ujarnya.
Kak Seto bercerita kalau dirinya dan tim dari LPAI akan pergi ke Surabaya untuk menemui anak-anak para pelaku pemboman. Ia akan memberikan terapi khusus.
“ Saya akan melakukan terapi di sana. Anak tidak boleh dibiarkan begitu saja, tidak boleh dibiarkan, dan harus dilindungi," ungkapnya.
Laporan Dina Nazhifah
Advertisement

Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor

Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym



5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol