Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Inaburra School, Sydney, Australia (Foto: Sydney Morning Herald)
Dream - Sekolah-sekolah umum yang biasanya berisi 48 murid dalam satu kelas komposisinya dianggap sudah sangat banyak. Anda mungkin akan lebih kaget kalau ada sekolah yang memang sengaja membuat kelas 'raksasa' yang berisi 112 murid di dalamnya.
Kelas ini diterapkan di Inaburra School, Sydney, Australia. Kelas tersebut memang sengaja dikonsepkan seperti itu bukan tanpa alasan. Penerapannya adalah menyatukan kelas 5 dan 6 dalam sebuah ruangan besar yang didampingi 5 guru.
" Guru dan siswa dikelompokkan untuk belajar dengan cara yang lebih cair dan fleksibel daripada di kelas tradisional," kata kepala sekolah Inaburra School, Tim Bowden, seperti dikutip dari Sydney Morning Herald.
Dalam ruangan yang luas terdapat ratusan siswa, yang membentuk kelompok tak dibatasi oleh tingkatakan kelas. Mereka belajar secara berkelompok, ada yang mengerjakan soal matematika dengan iPad lalu ada juga sekelompok anak yang belajar bahasa Inggris.

Sejak awal tahun, sekolah ini memang telah mengubah konsep tradisional kelas dengan menempatkan semua siswa kelas 5 dan 6 dalam sebuah ruang terbuka dengan lima guru. Sepanjang hari, siswa menjalani tiga sesi pelajaran dengan guru tetap. Materi yang diberika antara lain bahasa, matematika, sejarah, geografi dan sains. Ada juga guru khusus untuk pelajaran musik dan robotika.
Tapi bukannya memasangkan 20 siswa dengan satu guru, kelompok dikonfigurasi sesuai kebutuhan. Misalnya ada anak yang belum mengerti secara lebih dalam soal matematika, maka mereka akan dikelompokkan. Jadi benar-benar melihat kebutuhan tiap anak, dan guru akan melakukan pendekatan sesuai kebutuhan.

" Anak usia 10 dan 11 tahun belajar bersama dalam satu kelas. Dengan model kelas campuran seperti ini, ada pengakuan yang jauh lebih terbuka terhadap kebutuhan belajar yang berbeda," ujar Professor Cornish, peneliti pendidikan dari University of New England.
Menurut Bowden, konsep kelas seperti ini disambut positif oleh guru dan murid-murid. Para guru reguler jadi berkolaborasi dengan baik untuk membentuk suasana belajar mengajar yang kompak.
Begitu juga anak-anak, mereka ada yang bisa membagi ilmunya dengan murid lain yang belum mengerti atau langsung bertanya pada yang sudah mengerti lebih dulu.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun