6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi
Dream - Kehamilan tentunya jadi hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh pasangan yang mendamba keturunan. Saat kehamilan terjadi, Anda mungkin bisa secara praktis mengetahuinya melalui testpack. Tapi pemeriksaan harus segera dilakukan.
Pasalnya, bisa saja kehamilan tersebut bermasalah karena tak terjadi di dalam rahim, namun di luar rahim. Banyak yang menyebutnya sebagai kehamilan di luar kandungan (kehamilan
ektopik) atau hamil anggur.
Kehamilan ektopik, seperti dikutip dari WebMD, terjadi ketika sel telur yang dibuahi sel sperma dan telah menjadi embrio tidak berada di dalam rahim. Namun berada di tuba falopi atau
area lain. Dalam kasus ini, kehamilan tidak dapat berlanjut secara normal dan memerlukan penanganan darurat.
Untuk itu, jika Anda sudah melakukan testpack dan hasilnya positif segera konsultasi dengan dokter untuk pemeriksaan ultrasonografi (USG). Dari pemeriksaan USG bisa dilihat apakah
kehamilan terjadi secara normal atau di luar kandungan.
Ada gejala-gejala khas yang dialami ibu saat hamil di luar kandungan. Seperti mual dan muntah berkali-kali disertai rasa sakit di perut bawah, nyeri di salah satu bagian tubuh, juga rasa sakit
yang luar biasa di area dubur. Pada beberapa kasus, ibu juga akan mengalami pendarahan hebat, yang merupakan pertanda luruhnya embrio atau keguguran.
Lalu apa pemicu kehamilan di luar kandungan ini?
Ada beberapa penyebab kehamilan di luar rahim bisa terjadi, yaitu penyakit menular seksual, radang panggul, dan penggunaan obat kesuburan. Terdapatnya parut atau bekas luka bekas
operasi di area reproduksi juga bisa menyebabkan hamil anggur.
Begitu juga konsumsi obat dan terapi hormon dalam program bayi tabung (IVF). Kehamilan ini tak bisa diteruskan. Biasanya dokter akan memberikan terapi obat melalui suntikan untuk
menghentikan perkembangan embrio yang tak mungkin bertahan tersebut. Dalam beberapa kasus yang cukup rumit operasi juga dibutuhkan.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
