JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kondom jadi alat kontrasepsi yang cukup praktis. Bisa dibeli dan digunakan dengan mudah. Tak heran kalau alat penunda kehamilan ini kerap digunakan sebagai kontrasepsi andalan bagi kaum pria.
Tapi ternyata menurut dokter spesialis kandungan dan ginekologi Klinik Yasmin RS Cipto Mangunkusumo, Andon Hestiantoro, kondom tak direkomendasikan sebagai kontrasepsi utama.
" Jadi, kondom itu hanya untuk dipakai sewaktu-waktu, untuk jangka pendek," kata Andon saat diskusi Hari Kontrasepsi Sedunia, beberapa waktu lalu
Terkadang orang lupa memakai kondom, tidak sempat pasang, dan ukuran yang tidak sesuai. Selain itu, walau produksi sudah baik, tetap ada risiko kondom bocor yang memungkinkan sel sperma keluar.
" Jadi, ya kalau bisa gunakan metode kontrasepsi yang lebih efektif," tutur Andon.
Walau begitu, Andon juga mengatakan bahwa kondom merupakan kontrasepsi yang memiliki keunggulan mencegah penularan penyakit menular seksual. Ada banyak pilihan kontrasepsi. Seperti spiral, pil KB, implan, IUD. Apapun pilihannya, Andon mengingatkan sesuaikan dengan kebutuhan.
" Bisa suntikan ada yang tiga bulan sekali atau satu bulan sekali. Kalau mau enggak ribet bisa pasang spiral untuk jangka menengah dan panjang," kata pria yang juga staf pengajar FKUI-RSCM Jakarta ini.
Pil KB kombinasi menurutnya paling bagus dalam perencanaan keluarga. Dari 10.000 perempuan yang mengonsumsi pil KB dalam setahun hanya 5 yang hamil. Sementara, kalau spiral angkanya lebih tinggi dari itu.
" Pakai pil KB kombinasi itu yang paling bagus, asal disiplin makannya. Kalau enggak makan dua hari saja sudah fatal," kata Andon.
Sumber: Benedikta Desideria/ Liputan6.com
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun