5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa
8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi
5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Ilustrasi
Dream - Bayi-bayi lahir dengan kemampuan berpikir dan sel otak yang luar biasa. Stimulus yang diberikan oleh orangtua dan lingkungannya jadi hal penting karena akan meningkatan kemampuan pembelajarannya. Salah satu yang penting diajarkan adalah konsep sebab akibat.
Siapa sangka ternyata sejak bayi anak sebenarnya sudah bisa diajarkan konsep sebab akibat. Konsep tersebut merupakan pondasi agar anak memiliki keterampilan hidup yang mumpuni di masa depan.
" Penalaran ini sebenarnya sudah bisa dikenalkan pada bayi-bayi. Diharapkan saat besar nanti anak memiliki konsep kerangka berpikir yang baik dan kritis. Mendahulukan analisa dan andal dalam mencari solusi masalah," ujar Anita Lyndey, seorang psikolog, seperti dikutip dari Fatherly.
Cobalah perkenalkan konsep sebab akibat ini bahkan ketika bayi berusia 3 bulan. Saat usia tersebut bayi sudah mulai menunjukkan emosi dan responsnya. Misalnya saat dinyanyikan atau dibercandai mereka akan tertawa. Lalu, mereka juga mulai sadar, saat menangis, pasti akan ada yang menghampirinya.
Permainan seperti gelang bunyi atau rattle yang harus digerakkan untuk dibunyikan sangat baik untuk bayi usia 3 bulan. Mereka akan berusaha menggerakannya. Bukan hanya meningkatkan kemampuan motorik tangannya tapi juga mengenalkan konsep kalau perlu ada gerakan untuk menimbulkan bunyi-bunyian.
" Jadi sebab akibat ini sebenarnya sudah mulai dipahami bayi. Mereka menangis, akibatnya orangtua atau pengasuh datang. Sehingga mereka melakukan hal itu lagi dan lagi," ujar Lydia.
Untuk anak 6 hingga 12 bulan, Anda bisa membuat permainan. Dengan menyusun balok agak tinggi, lalu minta mereka memegang. Saat belum bisa memegang balok-balok akan rubuh. Ajari anak untuk menyusunnya lagi. Dengan begitu mereka belajar, balok-balok yang disusun bisa hancur tapi bisa disusun kembali.
" Pada anak yang mulai belajar merangkak, taruh juga mainan di tempat yang agak jauh. Jangan langsung di dekatnya. Pancing anak untuk berusaha mendapatkannya. Begitu juga pada mainan bunyi dan tombol. Anak akan belajar akan ada bebunyian jika memencet tombol. Dengan begini anak akan belajar harus ada yang dilakukan untuk memunculkan sesuatu, sebab dan akibat," ujar Lydia.
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman