Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Sebagai manusia yang memiliki emosi, sangat normal bagi kita melampiaskannya lewat teriakan. Sayangnya, jika berhadapan dengan anak, teriakan ini bisa menjadi contoh buruk baginya dan berdampak negtif bagi perkembangannya.
Orangtua berteriak karena mereka kerap 'ditarik' dengan situasi dan pertanyaan serta tanggung jawab yang berbeda dalam waktu yang sama. Hal ini tentu memicu frustrasi.
" Mereka melihat anak-anak mereka berkelahi atau melakukan sesuatu yang tidak mereka setujui. Ini semacam respons otomatis tapi haud belajar mengendalikannya," kata Nina Howe, profesor pendidikan anak usia dini di Concordia University.
Teriakan memang bisa dengan cepat membuat situasi stabil, tapi ternyata secara jangka panjang sangat tidak efektif. Anak akan terbiasa dengan teriakan, saat mendengar suara ibunya meninggi, ia baru mendengarkan.
Anak juga akan meniru jika dihadapkan dengan situasi yang sama. Jangan heran jika suatu hari orangtua dan anak saling meneriaki, karena anak mencontoh apa yang dilihatnya setiap hari.
© Dream
Lalu bagaimana mengontrolnya? Pertama ketahui pemicunya. Berteriak tidak terjadi tiba-tiba. Biasanya terjadi karena respons terhadap perilaku tertentu. Cari tahu apa pemicunya.
Misalnya saat anak bermain ponsel dan tak menoleh saat dipanggil, atau ketika kurang tidur dang sangat lelah. Dengan begitu, Sahabat Dream mencari cara untuk menghindarinya atau menyiasatinya. Anak-anak pun mengerti saat orangtunya sedang berada dalam level emosi tinggi.
Kedua, beri anak-anak peringatan. Sangat wajar memperingatkan anak-anak, jika mereka bersikap berlebihan. Peringatan sederhana itu terkadang cukup untuk membuat anak-memperbaiki sikapnya. Bisa dilakukan hitungan 1-5 atau konsekuensi disiplin bakal diberikan.
Ketiga, hal yang sangat penting dan kerap tak sempat dilakukan, yaitu menikmati waktu sendiri. Selalu dikeliling suara riuh anak-anak, permintaan serta perdebatan akan sangat menguras emosi.
Luangkan waktu saat anak-anak tertidur, untuk menikmati segelas kopi atau teh sambil bersantai atau mungkin menonton serial favorit. Cara ini cukup efektif mengembalikan lagi level emosi menjadi stabil dan mengurangi keinginan untuk berteriak.
Sumber: Todays Parent
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya