Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram
Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian
Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini
Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Merasakan emosi dan kemudian mengutarakannya bukan hal yang mudah bagi anak-anak juga orang dewasa. Apalagi jika sejak kecil anak-anak tak diajarkan mengenali emosi, mengutarakannya dengan baik, dan mencari solusi untuk meredakannya jika yang muncul adalah emosi negatif.
Dengan mengajari anak beragam emosi yang dialami dan orang-orang di sekelilingnya, anak akan belajar banyak hal. Tahu apa yang sedang dialami orang lain, beradaptasi dengan situasi dan hal terpenting yang belajar berempati.
Bagaimana cara mengenalkan berbagai emosi pada anak?
" Gambar dan situasi jadi hal yang mudah dimengerti dengan cepat oleh anak. Buku emosi adalah hal yang bisa digunakan untuk mengajarinya mengenal beragam emosi. Dalam buku ini bisa gambarkan emoji, senang, sedih, panik, menangis dan sebagainya. Misalnya, saat anak melihat sang ayah sedang tertawa, minta ia menggambar emoji sesuai emosi sang ayah," ujar Tina Willson, seorang terapis anak.
Untuk membuat buku emosi ini cukup mudah. Gunting kertas bentuk bulat, kemudian gambar beragam emosi di dalamnya. Nah, saat si kecil berhadapan dengan orang lain dengan beragam
emosi, minta ia menempelkan gambar tersebut di buku emosi.
Anak juga bisa menggambarkan emosinya dalam buku tersebut. Saat sudah tahu bagaimana perasaan dan emosi yang dialaminya, ajarkan anak untuk menurunkan level emosi jika yang
muncul adalah hal negatif.
" Menarik napas panjang dan membuangnya secara perlahan adalah cara terbaik untuk melatih anak mengontrol emosi negatifnya. Anak balita yang sudah bisa diajak berkomunikasi, bisa diajarkan hal ini dan mereka mengerti. Cobalah dan lihat efek dahsyatnya," ungkap Willson.
Menurut Wilson, bahkan orang dewasa seringkali sulit menggambarkan suasana hati dan emosinya. Apalagi anak-anak yang seringkali merespons hal yang tak disukainya dengan menangis dan berteriak. Untuk itu, ajarkan anak untuk menggunakan kalimat dan kata saat mengekspresikan emosinya.
" Kadang anak merasa binggung untuk menggambarkan perasaannya, Anda bisa membantunya. Saat anak menjatuhkan es krimnya, Anda bisa membantu menjelaskan dengan 'adik es krimnya jatuh, sedih dan kesal ya', dengan begitu anak biasanya jadi lebih mengerti," ungkap Willson.
Sumber: The Spruce
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?


Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest