Minggu, 18 Oktober 2026 Cari

Memberi Hukuman dengan Mengucilkan, Efektifkah?

Reporter : Mutia Nugraheni
Senin, 10 Juli 2017 12:07
Memberi Hukuman dengan Mengucilkan, Efektifkah?
Anak hanya tahu bahwa ia merasa dikucilkan tapi tidak diajak berpikir kritis untuk mengetahui sebab akibat.

Dream - Banyak cara untuk mengajarkan anak konsekuensi atau sebab akibat, salah satunya adalah memberikan hukuman. Ada yang berpendapat memberikan hukuman adalah cara efektif. Tapi tak semua hukuman bisa menimbulkan efek positif bagi anak.

Salah satu yang sering jadi perdebatan adalah hukuman dengan mengucilkan. Membiarkan anak di kamar atau duduk di pojok sendirian dan tak boleh ada yang berbicara dengannya.
Biasanya berlangsung selama 5 hingga 10 menit atau lebih.

Cara ini mengundang kritik karena tidak membuat anak mengetahui efek buruk dari yang dilakukannya.

Anak hanya tahu bahwa ia merasa dikucilkan tapi tidak diajak berpikir kritis untuk mengetahui sebab akibat dari apa yang dilakukannya. Hukuman mengucilkan itu pun dianggap tidak
efektif.

" Orangtua ingin anak mengembangkan kemampuannya berpikir kritis, serta tahu sikap buruk dan efeknya akan hal tersebut. Tapi hukuman mengucilkan hanya membuat anak malah
menjauh dari masalah dan ia menjadi bingung. Tak diminta 'membereskan masalah' yang ditimbulkannya," ujar Dr. Laura Markham, seorang psikolog yang juga penulis buku, seperti dikutip dari Fatherly.

Membiarkan anak sendirian untuk meredakan emosi, mungkin bisa dilakukan selama beberapa menit. Tapi ketika ia mulai tenang, sulit membayangkannya kalau ank bisa merefleksikan sendiri atas apa yang dilakukannya. Untuk itu percakapan perlu dibangun.

" Setelah tenang, ayah atau ibu bisa menghampiri anak dan memeluknya. Katakan padanya kalau hal yang dilakukannya adalah buruk dan ada efeknya. Misalnya ia melempar adiknya dengan mainan, maka sang adik bisa luka dan menangis. Ajak anak untuk meminta maaf pada adik dan membantu adik meredakan nyeri karena lemparannya," kata Markham.

Anak bukan hanya belajar konsekuensi tapi juga mengasah empatinya. Jangan biarkan anak sendirian menghadapi hukuman. Ajarkan anak kalau melakukan kesalahan, ia harus 'membereskannya', misalnya dengan meminta maaf dan menurunkan level egonya.

 

 

Beri Komentar
Jangan Lewatkan
More