Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Ilustrasi
Dream - Anak-anak terutama balita memang memiliki kecenderungan takut terhadap sesuatu. Hal yang paling umum ditakuti anak adalah gelap, serangga atau ketika berpisah dengan orangtuanya.
Tak hanya itu, ada ketakukan lain yang dialami anak dan mungkin bagi Anda sangat aneh. Ada anak-anak yang takung dengan kaus kaki, warna hijau, motif polkadot bahkan donat. Dari
penelitian terungkap 1da 40 fobia yang paling sering terjadi pada anak termasuk takut pada badut dan kucing.
Bahkan terkuak juga ketakutan yang tidak lazim seperti takut pada kancing, saus, dan suara alat makan yang bergesekkan. Dari penelitian diketahui anak-anak di bawah usia 16 tahun,
rata-rata anak memiliki 3 fobia. Rasa takut tersebut cenderung berkembang ketika anak berusia 3 tahun 10 bulan.
" Setiap anak memiliki fobia karena alasan yang berbeda-beda. Beberapa memiliki trauma tapi tidak ada berarti apa-apa. Kebanyakan berasumsi sesuatu akan terjadi kalau hal itu ada di
sekitarnya seperti badut yang tiba-tiba hadir menakutinya di taman," ujar Emma Citron, seorang psikolog anak.
Menurut Emma, ada beberapa penyebab anak bisa menjadi fobia, pemicunya antara lain sebagai berikut.
Insting
Salah satu alasannya adalah karena bisa jadi masih berhubungan dengan evolusi. Sebagai contoh, takut pada ular, hiu, dan laba-laba adalah insting bertahan hidup yang alami karena hewan tersebut berbahaya.
Reaksi orang lain
Reaksi orangtua, kakak atau saudaranya karena ketidaksukaan anak pada sesuatu bisa mengubahnya menjadi fobia. Ada anak yang sebenarnya hanya takut saja pada kumbang misalnya. Tetapi orang-orang di sekitar malah terus menakuti dan dilakukan terus-menerus. Ketakutan anak pun jadi berlebihan.
" Tertular' fobia orangtua
Sebagai orangtua, Anda bisa tidak sengaja meneruskan ketakutan dan fobia pada anak. Penelitian menemukan 7 dari 10 orangtua yang membawa ketakutannya saat kecil hingga
dewasa seperempatnya meneruskannya ke anak-anak mereka.
Usia
Ketika anak bertambah besar dan mengembangkan imajinasinya, dapat berdampak pada ketakutan dan fobianya yang baru. Menurut Anxiety Care UK, berikut ketakutan yang normal
berdasarkan usia anak:
2-4 takut pada hewan, suara kencang, dan ditinggal sendirian.
4-6 ketakutan pada kegelapan dan makhluk khayalan seperti monster dan hantu.
7+ ketakutannya mulai menghilang, tapi pada usia 9-11, anak mulai takut pada sekolah, darah dan bekas luka.
Ada juga 10 fobia yang paling sering dimiliki oleh anak-anak. Fobia tersebut yaitu takut pada laba-laba, gelap, kolong tempat tidur, petir, tawon, sendirian, berisik/ di ruang publik yang ramai, orang menggunakan masker, anjing dan orang asing.
Laporan Gemma Fitri Purbaya
Sumber: NetMum
Advertisement

Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis

Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi

Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya

Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?



5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol