Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI
Bisakah Menunda Menopause hingga Usia 60 Tahun? Ini Kata Para Ahli
Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest
3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram
Anak Menangis (Foto: Shutterstock)
Dream - Kesal, mengamuk, menangis kencang bahkan memukul orang di sekitarnya. Mungkin hal ini dianggap biasa jika terjadi pada anak usia 6 tahun ke bawah. Tapi sebenarnya ekspresi emosi yang meledak-ledak tak terkontrol ini jadi semacam 'alarm' bagi orangtua.
Amukan tak terkendali pada anak sebaiknya dicari solusinya. Tak boleh jadi hal yang dianggap biasa. Bisa juga jadi pertanda kalau anak belum mendapat petunjuk dan ajaran tepat untuk mengontrol impuls emosinya.
" Tanpa intervensi yang tepat, perilaku impulsif pada bisa menjadi lebih buruk seiring berjalannya waktu, tetapi kabar baiknya adalah, orangtua bisa mengajarkan teknik kontrol impuls pada anak," ujar Amy Morin, seorang terapis anak.
Semakin baik kemampuan kontrol impuls yang diperoleh anak, semakin kecil kemungkinan dia akan mengamuk dan memukul. Anak akan semacam berpikir berkali-kali apa dampak baginya dan orang di sekelilingnya jika ia tak mengontrol emosinya.
" Langkah pertama ajarkan si kecil mengetahui nama emosi yang dirasakannya. Senang, sedih, kecewa, takut, marah. Jelaskan dalam kondisi ketika mengalaminya," ujar Morin.
Bicaralah tentang perbedaan antara perasaan dan perilaku. Misalnya 'adik sedang marah karena mainannya diambil yah, marah tidak apa-apa, tapi jangan memukul ya'. Jika anak sudah terbiasa berbicara tentang emosinya dengan cara yang tepat, berarti ia sudah memiliki kemampuan dasar mengontrol emosi.
Hal yang juga sangat mendasar adalah ajarkan teknik sederhana pada anak untuk mengontrol level emosinya yang sedang sangat tinggi. Caranya dengan menarik napas panjang melalui hidung dan membuangnya lewat mulut.
" Bisa juga menyediakan balon yang bisa ditiup ketika emosinya sedang sangat besar, ketika balon membesar, buang seperti membuang emosi negatif. Biasanya cukup berhasil, jika orangtua cukup sabar mendampingi," ujar Morin.
Cukup sederhana tapi memang harus dilakukan secara konsisten agar kemampuan kontrol emosi pada anak bisa terasah. Jangan lupa dicoba di rumah, Sahabat Dream.
Sumber: Verywell
Advertisement

Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi