6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi
Dream - Setiap orangtua pasti ingin melihat anaknya mendapatkan peringkat dan nilai yang bagus di sekolah. Hal ini dilatarbelakangi anggapan bahwa nilai akademik yang baik, merupakan modal penting agar anak sukses ketika dewasa.
Tapi ternyata ada hal yang jauh lebih penting, yaitu kemampuan berinteraksi dan mengontrol emosi. Hal tersebut diketahui dari penelitian panjang selama sekitar 19 tahun, untuk mengetahui kemampuan sosial anak dan efeknya ketika dewasa.
Penelitian sendiri dilakukan pada 800 bocah taman kanak-kanak pada 1991. Analisis terus dilakukan hingga 19 tahun kemudian, ketika bocah-bocah tersebut berusia 25 tahun. Penelitian ini untuk membuat panduan kemampuan sosial yang disebut Social Competence Scale.
Lalu apa hasil dari penelitian selama 19 tahun tersebut?
1. Hasil tes akademik baik yang dikejar? Itu memang penting tapi bukan itu alasannya
Pemikiran tradisional mengatakan bahwa kalau anak mendapatkan peringkat dan nilai yang bagus artinya mereka pintar, kan? Ada hubungannya dengan mendapatkan nilai yang bagus di
sekolah dan menghasilkan uang saat dewasa nanti.
Tapi apa yang tidak dikatakan adalah seberapa banyak anak Anda belajar bersama temannya menyelesaikan suatu masalah, atau pergi menghadap gurunya untuk menanyakan sesuatu, atau menahan keinginan untuk menonton TV ketimbang mempersiapkan diri untuk tesnya. Peneliti dalam penelitian ini menuliskan " sukses di sekolah melibatkan emosi sosial dan kemampuan kognitifnya, karena interaksi sosial, perhatian, dan kontrol diri mempengaruhi kesiapan untuk belajar."
2. Kemampuan berbagi dan bekerjasama akan sangat berguna
Penelitian menemukan bahwa anak-anak yang berhubungan baik dengan kawan sebayanya, menguasai emosinya lebih baik dan bagus dalam menyelesaikan masalah yang mengantarkannya pada kehidupan yang lebih sukses.
Sedangkan anak-anak yang selalu mencuri mainan dan menghancurkan sesuatu, akan sering berurusan dengan hukum dan dituntut karena masalah kekerasan. Penelitian ini tidak bisa menyakinkan bagus atau buruknya kemampuan sosial anak berdampak langsung pada kejadian ini.
3. Perilaku sosial bisa dipelajari dan tidak, artinya tidak pernah ada kata terlambat
Para peneliti menganggap perilaku sosial seperti berbagi dan bekerjasama sebagai paling bisa diubah. Kebiasaan dan perilaku anak-anak kebanyakan datang dari orangtua mereka. Semakin sering Anda mencontohkan perilaku sosial yang baik, semakin baik sikap anak kelak.
Laporan Gemma Fitri Purbaya
Sumber: UpWorthy
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
