Di Balik 8 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo
Kepuasan Publik Setelah Dua Tahun Prabowo-Gibran
Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
Ilustrasi
Dream - Tak mau anak sedih, kecewa, melakukan kesalahan sehingga berdampak panjang. Perasaan khawatir berlebihan ini seringkali membuat orangtua jadi 'gila' kontrol. Aktivitas anak pun diatur dengan sangat ketat.
Jadwal main anak dibatasi, dengan siapa anak berteman juga diatur, anak tak bisa mengatur kegiatannya sendiri. Ada orangtua seperti ini? Jawabannya ada. Rasa sayang yang begitu besar membuat orangtua bersikap demikian, menjadi 'gila' kontrol.
" Orangtua yang sangat mengontrol ini tentunya berdampak besar pada kondisi psikologi anak. Efeknya bisa jadi negatif, bukan malah membuat anak jadi sukses dan bahagia, malah sebaliknya," kata Amy Morin, seorang psikolog anak.
Anak yang terlalu banyak dikontrol oleh orangtuanya, di kemudian hari bisa saja melawan. Ia bisa saja memberontak pada keputusan apapun yang dibuat orangtua, meski itu baik untuknya.
" Anak butuh kebebasan dalam hal-hal tertentu. Jika terus dikontrol, akan sangat mungkin mereka memberontak. Berilah sedikit kebebasan pada anak, itu akan sangat baik bagi kemandiriannya," ujar Morin.
Ketika anak sudah memberontak, akan ada satu titik di mana ia tak akan mau lagi mendengar opini an perkataan orangtuanya. Bahkan menganggap 'musuh'. Jika sudah begini, komunikasi akan sulit dilakukan. Hubungan bisa jadi memburuk.
" Orangtua yang selalu mengontrol juga cenderung 'mematikan' kreativitas' anak. Kemampuan anak jadi kurang berkembang, terutama dalam menyelesaikan masalah karena orangtua selalu terlibat penuh," kata Morin.
Ia juga mengingatkan pada banyak orangtua agar jangan takut ketika anak berbuat salah atau mengalami kekecewaan dan kegagalan. Justru hal itulah yang akan membuat anak jadi pribadi yang kuat dan jadi proses penting pematangan emosinya. Tugas orangtua adalah mendampingi dan bukan selalu memperbaiki keadaan.
Ingat, nantinya anak akan dewasa, hidup mandiri lalu berkeluarga. Bayangkan jika ia selalu bergantung dan kehidupannya selalu dikontrol oleh orangtua. Menyedihkan, bukan?
Sumber: Very Well