Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Anak Mengamuk (Foto: Shutterstock)
Dream - Menghadapi sikap anak-anak usia balita memang butuh kesabaraan dan kepekaan yang ekstra. Mereka bisa tertawa girang saat bermain lalu tiba-tiba merengek dan menangis tak terkendali.
Sebagai orangtua saat anak bersikap demikian, biasanya cenderung bingung dan stres. Jika menghadapi sikap anak yang tak terkontrol, jangan sekalipun mencap-nya sebagai anak nakal.
Mungkin sikapnya memang tak terkendali, namun ada fakta lain di balik sikapnya tersebut. Yuk, cari tahu.
1. Mereka tidak bisa mengendalikan dorongannya.
Pernah berkata kepada anak Anda, " Jangan lempar itu!" dan mereka membuangnya? Penelitian menunjukkan bahwa daerah otak yang bekerja dalam hal pengendalian diri belum matang saat lahir dan belum dewasa sepenuhnya sampai akhir masa remaja. Ini menjelaskan mengapa mengembangkan kontrol diri adalah proses yang panjang dan lambat.
2. Stimulasi berlebihan
Mengajak anak-anak bermain di playground atau taman, lalu pergi ke rumah kerabat kemudian bermain lagi, bertemu banyak orang. Jangan heran kalau anak menjadi sangat kelelahan dan menjadi rewel.
Kondisi tersebut merupakan overstimulation. Biasanya si kecil akan merasa lelah tapi ingin bermain dan mengantuk. Ia pun jadi malas makan. Tidur pun jadi sulit dan akhirnya menangis tak terkendali.
3. Kebutuhan fisik anak-anak mempengaruhi suasana hati
Kondisi psikologis anaka sangat dipengaruhi oleh kebutuhan fisiknya. Misalnya saat anak lapar atau haus, ia akan jadi sangat mudah menangis dan rewel. Begitu pun ketika tubuhnya kelelahan atau mengantuk. Anak belum tahu dan bisa memberi tahu kebutuhannya. Sehingga, ia pun mengamuk dan menangis. Orangtua harus lebih peka dengan keadaan ini.
Sumber: UpWorthy
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya