Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Melempar barang-barang, menangis tak terkendali, bahkan memukul dan menendang orang di sekitarnya. Mungkin kondisi ini pernah terjadi pada buah hati Sahabat Dream. Kondisi memang sangat membuat frustasi orangtua.
Jangan langsung melabeli anak-anak yang sedang mengamuk tersebut dengan sebutan buruk, seperti 'nakal', 'bandel' atau susah diatur. Kondisi tersebut seringkali menunjukkan kalau
sebenarnya anak butuh bantuan orangtua.
1. Kemampuan mengontrolnya belum matang
Pernah meminta si kecil untuk tak melempar mainannya, namun mereka malah melemparnya dengan jauh? Pada anak yang berusia di bawah lima tahun, pertumbuhan area otak yang
fungsinya memberi kontrol diri belum sepenuhnya sempurna dan matang.
Inilah yang membedakan anak-anak dan dewasa. Seiring bertambahnya usia, area otak tersebut akan semakin matang. Kemampuan mengontrol diri merupakan proses perkembangan yang sangat panjang. Jadi saat menghadapi anak-anak tak terkendali memang mereka harus diingatkan kembali dan level kesabaran harus ditambah
2. Stimulasi berlebihan
Membawa anak-anak ke pusat perbelanjaan, taman bermain atau mengikuti tur wisata seharian, memang akan membuatnya sangat kegirangan. Anak bisa melompat ke sana ke mari, bermain, tapi setelahnya bisa tiba-tiba rewel dan menangis.
Hal ini karena situasi yang berbeda dan seru bagi anak bagai 'pisau bermata dua'. Memang sangat menghibur tapi anak-anak tetap butuh istirahat fisik, berupa tidur siang atau setidaknya istirahat duduk makan. Saat mereka kelelahan kondisi moodnya bisa berubah total.
3. Belum bisa mengungkapkan emosi dengan baik
Ada anak-anak yang tak dibiasakan untuk mengekspresikan apa yang dirasakannya melalui ucapan. Sehingga ketika ia merasa sedih atau kecewa, sikapnya jadi sangat sulit dikendalikan. Ia mencoba menyampaikan emosi yang terpendam melalui sikapnya.
Untuk itu kenalkan berbagai emosi pada anak dan ajarkan ia untuk mengungkapkannya. Misalnya, ajarkan anak saat ia kesal karena mainannya diambil kakaknya, untuk mengungkapkan kekesalnnya. Bisa dengan mengungkapkan " aku gak suka mainanku diambil" , " aku kesal" , " aku sedih sikap kakak begitu" dan sebagainya. Orangtua memang sangat berperan besar dalam hal ini.
Sumber: Upworthy
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Burnout Orang Tua Bisa Memicu Pengasuhan yang Keras, Kenali Tanda-Tandanya Sejak Dini

Kenapa Orang Tua Selalu Bilang Anak Zaman Sekarang Makin Buruk? Ini Kata Penelitian

3 Tanda Tubuh Cukup Serat Tanpa Harus Menghitung Setiap Gram

Seberapa Dalam Lautan Bumi? Titik Terdalamnya Bisa Menenggelamkan Gunung Everest

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari