Jalan Ekonomi Hijau Indofood
Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Ilustrasi
Dream - Anak lebih memilih menunjukkan apa yang mereka inginkan dan pikirkan melalui sikapnya. Apalagi jika anak tak dilatih untuk membicarakan hal-hal dan emosi yang dirasakan.
Seringkali karena mereka tak bisa mengungkapkan melalui omongan, sikapnya pun jadi sangat reaktif. Merengek, menangis, hingga mengamuk bisa saja dilakukannya. Kondisi ini kerap terjadi pada anak balita atau pun usia sekolah.
Menghadapi sikap buruk anak memang tak mudah, tapi hal yang harus diketahui orangtua adalah pemicunya. Biasanya empat hal ini jadi penyebabnya.
1. Mencari perhatian
Saat anak ingin perhatian dan tak mendapatkan, bersikap buruk pasti langsung dilakukannya. Coba perhatikan saat Anda sibuk dengan telepon, berbicara dengan orang lain atau mengerjakan sesuatu dan tak memperhatikannya. Anak akan cenderung merengek dan menangis.
Dalam kondisi ini berarti si kecil memang sedang ingin diperhatikan Anda. Beri pelukan
hangat dan tatap matanya. Beri pengertian kalau Anda butuh waktu untuk menyelesaikan sesuatu, biasanya anak akan 'luluh' dengan cara ini daripada Anda berteriak memarahinya.
2. Meniru orang lain
Anak terutama balita merupakan peniru ulung. Mereka belum bisa membedakan mana hal baik dan buruk. Apa yang mereka lihat, itu yang mereka tiru. Sikap buruk anak bisa saja karena meniru temannya, saudaranya atau tokoh di televisi.
Untuk itu perhatikan lingkungan di sekitar anak. Jika memang ada pengaruh buruk, katakan pada anak bahwa hal itu tidak baik dan tak boleh ditiru. Dengan cara itu Anda juga mengajarkan anak memilah mana yang baik atau buruk.
3. Menguji batasan orangtua
Anak itu sangat pintar, kadang mereka ingin menguji batasan emosi orangtuanya. Terutama ketika orangtua memberlakukan peraturan. Anak bisa saja bersikap buruk dengan melanggar aturan yang dibuat untuk melihat sejauh apa konsekuensi yang didapatnya. Mereka juga ingin tahu bagaimana reaksi orangtua.
4. Kurangnya keterampilan
Kadang-kadang masalah perilaku berasal dari kurangnya keterampilan. Seorang anak yang tidak memiliki keterampilan sosial dapat memukul anak lain. Seorang anak yang tidak memiliki keterampilan memecahkan masalah, mungkin tidak membersihkan kamarnya.
Hal itu karena ia tidak yakin apa yang harus dilakukan ketika mainannya tidak berada dalam kotak. Untuk itu pastikan Anda mengajarkan banyak keterampilan padanya, baik keterampilan sosial maupun keterampilan dasar.
Sumber: Very Well
Advertisement

Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha