6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Ilustrasi
Dream - Kepintaran atau intelegensia tak melulu didapatkan dari belajar di sekolah atau secara textbook. Untuk anak-anak, kecerdasan ini juga ditentukan bagaimana stimulasi sehari-hari yang dilakukan orangtua dan pengajar.
Dengan stimulasi pola pikir anak akan berkembang secara maksimal atau dikenal dengan istilah growth mindset. Istilah ini dikenalkan oleh peneliti pendidikan dari Stanford University, AS,
Dr Carol Dweck. Ia percaya bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan dan pola pikirnya.
Dweck percaya bahwa kemampuan untuk mempelajari materi yang sulit dan mengatasi masalah berasal dari keyakinan diri anak sendiri. Lalu bagaimana membantu anak mengembangkan pola
pikirnya? Ada tiga hal yang bisa Anda ajarkan pada anak untuk menstimulasi kecerdasan dan pola pikirnya.
1. Tak masalah jika melakukan kesalahan
Akan sangat sulit jika memulai sesuatu dengan didasari rasa takut melakukan kesalahan. Untuk itu ajarkan si kecil untuk mencoba sesuatu yang baru dan tak malasah jika ia berbuat
kesalahan. Justru dari kesalahan tersebut, ajak anak untuk bersama-sama mencari solusi memperbaikinya.
2. Mencoba cara baru dalam menyelesaikan masalah
Jika ia dihadapkan dengan pekerjaan rumah yang sulit, tawarkan padanya untuk mencari cara lain. Atau ketika di jalanan sangat macet, ajak dia berdiskusi jalur lain yang mungkin bisa
dilewati. Dengan menstimulasi anak untuk mencoba dan mencari berbagai cara dalam menyelesaikan masalah, ia akan cenderung kreatif. Pola pikirnya juga jadi lebih terbuka dan tidak kaku.
3. Ajarkan untuk membicarakan masalah
Anak cenderung tak mau membicarakan masalah yang dihadapinya. Mereka akan lebih memilih diam. Misalnya ketika mendapat nilai buruk di sekolah atau ketika mendapat perlakuan kasar dari temannya. Untuk itu, mulailah mengajarinya untuk terbuka dan membicarakan hal buruk yang dialaminya. Dengan begitu ia akan bisa menganalisa mengapa masalah tersebut bisa terjadi untuk kemudian mencari solusi. Hal ini sangat penting bahkan ketika ia beranjak dewasa dan harus berhadapan dengan lingkungan baru.
Sumber: Very Well
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya