Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kehadiran anak dalam sebuah keluarga jadi hal yang kerap dinantikan. Terutama setelah menikah, saat menunggu kehadiran anak pertama. Segala macam usaha dilakukan untuk memberikan yang terbaik pada anak.
Lalu bagaimana setelah kehadiran anak kedua? Household, Income and Labour Dynamics (HILDA) di Australia melakukan survei pada 20.000 orang Australia yang berusia di atas 16 tahun.
Seperti dikutip dari KidSpot, survei dilakukan untuk mengetahui kesehatan mental orang tua ketika anak pertama lahir dibandingkan saat anak kedua lahir. Kelahiran anak pertama, mengenalkan orangtua pada kehidupan baru. Membuat mereka beradaptasi dengan cepat dan belajar.
Lalu kehadiran anak kedua, para orangtua telah memiliki keterampilan mengurus anak. Rupanya hal itu tak lantas membuat mereka lebih mudah. Justru sebaliknya, jauh lebih stres.
Kehadiran anak kedua menggandakan tekanan waktu pada orangtua. Membagi perhatian antara anak pertama, anak kedua, pekerjaan serta kebutuhan rumah tangga. Dari hasil survei juga mengungkap semakin memperlebar kesenjangan antara ibu dan ayah.
Tekanan waktu ini pada ibu bisa meningkatkan kemampuannya dalam mengelola waktu dan emosi dengan baik. Namun pada ayah justru sebalik. Kesehatan mentalnya justru menurun.
Membagi waktu, memastikan setiap anak mendapat perawatan, kesehatan dan pendidikan yang baik memang bukan perkara mudah. Dibutuhkan kerja sama serta sistem yang mumpuni agar semuanya bisa berjalan seimbang.
Kerja sama ibu dan ayah sangat diperlukan. Meski sudah memiliki peran masing-masing, saling membantu dan mengerti adalah kuncinya. Pasalnya, menjadi orangtua adalah sebuah proses belajar dan adaptasi terus-menerus.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya